Duka Mendalam Anak Korban Perampokan Sadis : “Ayah, Aku Mau Naik Pesawat ke Surga Ketemu Ibu”

22 Jan 2026 - 17:15
Duka Mendalam Anak Korban Perampokan Sadis : “Ayah, Aku Mau Naik Pesawat ke Surga Ketemu Ibu”
Mahfud (42), suami korban kasus perampokan sadis berujung maut di Desa Imaan Kecamatan Dukun Gresik menuntut keadilan dan hukuman maksimal bagi otak pelaku perampokan (Fahrudin/afederasi.com)

Gresik, (afederasi.com) – Dua tahun telah berlalu sejak perampokan sadis merenggut nyawa Wardatun Thoyibbah, seorang ibu agen BRI Link di Desa Imaan, Kecamatan Dukun, Kabupaten Gresik. Namun bagi keluarga yang ditinggalkan, terutama anak dan suaminya, luka itu tak pernah benar-benar sembuh.

Pihak keluarga korban, kini meminta agar Ahmad Midhol (39), terdakwa sekaligus otak pelaku perampokan dengan kekerasan yang berujung maut tersebut, dijatuhi hukuman maksimal. 

Mereka menilai tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) selama 14 tahun penjara belum sebanding dengan nyawa yang melayang dan trauma berkepanjangan yang harus ditanggung keluarga korban.

Dalam aksi keji itu, Ahmad Midhol menggondol uang tunai sekitar Rp150 juta serta satu unit ponsel dari laci korban. Peristiwa tersebut tak hanya menghilangkan nyawa seorang ibu, tetapi juga memutus masa kecil seorang anak dari kasih sayang orang tuanya.

Korban meninggalkan seorang anak semata wayang berinisial NZ, yang kini berusia 4 tahun dan masih duduk di bangku PAUD. Saat kejadian dua tahun lalu, NZ masih berusia sekitar dua tahun usia di mana memori emosional mulai terbentuk, namun belum mampu memahami kehilangan.

Hingga kini, trauma itu masih melekat. NZ kerap terbangun di malam hari sambil memanggil ibunya, menangis, dan mengalami mimpi berulang tentang sang ibu yang tak pernah pulang.

“Anak saya masih sering mimpi ibunya. Kadang tiba-tiba menangis dan terbangun dari tidurnya di malam hari,” tutur Mahfud, suami korban, dengan suara lirih.

Bagi Mahfud (42), kehilangan istrinya bukan hanya duka, tetapi juga titik balik hidup yang memaksanya menjalani peran ganda sebagai ayah sekaligus ibu. Setiap hari, ia berusaha tampil tegar di hadapan anaknya, meski di balik itu ia masih berjuang melawan luka dan rasa kehilangan yang mendalam.

Mahfud kini melanjutkan usaha agen BRI Link peninggalan istrinya sebagai satu-satunya sumber penghidupan keluarga. Di saat yang sama, ia harus membagi waktu mengasuh NZ bersama sang nenek, Muzani, yang telah lanjut usia. Pola pengasuhan dilakukan bergantian tiga hari bersama ayahnya dan tiga hari bersama sang nenek.

“Kami berusaha sebisa mungkin agar anak tidak terus larut dalam trauma. Kadang kami ajak jalan-jalan, sekadar keluar rumah agar pikirannya teralihkan,” ujar Mahfud.

Kepada anaknya, Mahfud dan sang nenek hanya mampu memberi penjelasan sederhana tentang kematian. Mereka mengatakan bahwa ibunya telah tenang dan damai di surga.

Namun kepolosan NZ kerap membuat hati mereka hancur kembali. Dalam beberapa kesempatan, NZ pernah meminta sesuatu yang tak mungkin dipenuhi.

“Dia pernah bilang, ayah aku ingin naik pesawat supaya bisa ketemu ibu di surga,” tutur Mahfud, dengan suara bergetar menahan emosi.

Sementara itu, Ahmad Midhol sempat masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO) sebelum akhirnya ditangkap di kawasan perkebunan kelapa sawit di Kalimantan Tengah setelah berbulan-bulan melarikan diri. Penangkapannya sempat memberi harapan keadilan bagi keluarga korban.

Namun harapan itu kembali goyah saat JPU Kejaksaan Negeri Gresik dalam sidang tuntutan pada Senin (19/01/2026) hanya menuntut terdakwa dengan hukuman 14 tahun penjara, dikurangi masa tahanan.

Bagi keluarga dan kerabat korban, tuntutan tersebut dirasa tidak sebanding dengan dampak seumur hidup yang harus mereka tanggung, khususnya bagi seorang anak yang kehilangan ibunya di usia sangat dini.

“Ini bukan soal balas dendam, tapi soal keadilan dan rasa aman masyarakat,” ujar salah satu kerabat korban.

Kasus ini menjadi pengingat bahwa satu tindak kejahatan brutal tidak hanya menghilangkan nyawa, tetapi juga menghancurkan masa depan sebuah keluarga dan meninggalkan trauma psikologis panjang terutama bagi anak yang harus tumbuh tanpa kehadiran seorang ibu.(frd)

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow