Dugaan Rekayasa dalam Politik Dinasti: Sorotan terhadap Pemilihan Presiden 2024

Dosen Universitas Gadjah Mada (UGM) Abdul Gaffar Karim mengangkat isu Politik Dinasti dalam Pemilihan Presiden 2024 (PIlpres 2024).

31 Oct 2023 - 13:31
Dugaan Rekayasa dalam Politik Dinasti: Sorotan terhadap Pemilihan Presiden 2024
Ilustrasi tiga Bacapres dan Bacawapres di Pilpres 2024. (Suara.com/Ema)

Yogyakarta, (afederasi.com) - Dosen Universitas Gadjah Mada (UGM) Abdul Gaffar Karim mengangkat isu politik dinasti dalam Pemilihan Presiden 2024 (PIlpres 2024). Baginya, fokus utama bukanlah politik dinasti itu sendiri, melainkan potensi rekayasa yang memungkinkan fenomena ini terjadi.

Dalam pandangan Gaffar, politik dinasti bukanlah gejala yang unik, melainkan sesuatu yang telah terjadi di berbagai negara dan masa. politik dinasti, seperti yang dijelaskan olehnya, terjadi saat keturunan mereka yang sudah lama terlibat dalam politik mendapatkan peluang dan pengalaman langsung dalam bidang politik.

Sementara politik dinasti sendiri bisa dianggap sebagai sebuah bentuk privilese, menurut Gaffar, sorotan utama harus difokuskan pada proses menuju pencalonan politik dinasti.

“Intinya, bukan soal politik dinasti, melainkan bagaimana politik dinasti bisa muncul. Di negara-negara maju, fenomena ini dapat terjadi tanpa upaya rekayasa. Namun, di Indonesia, situasinya terasa kurang sehat," jelasnya, seperti dikutip dari laman UGM, Selasa (31/10/2023), seperti yang dilansir dari Suara.com media partner afederasi.com.

Politik dinasti dan berbagai isu lainnya, menurut Gaffar, telah memantik perhatian publik terhadap negara. Meski begitu, dia melihat bahwa kemungkinan terjadinya konflik vertikal antara pemerintah dan masyarakat relatif kecil, terutama mengingat perkembangan yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir.

Kurangnya konflik memang sesuatu yang patut disyukuri, tetapi menurut Gaffar, alasan di baliknya bisa memilukan, yakni karena masyarakat belum terkonsolidasi dengan baik.

“Pemerintah sudah terkonsolidasi dengan baik, sementara masyarakat belum. Terdapat konflik kecil di kalangan elit, namun mereka selalu menemukan cara untuk rekonsiliasi dan segera mengatasi perbedaan," ucapnya.

Melihat pola yang terjadi di berbagai negara di seluruh dunia, Gaffar juga memperingatkan tentang risiko erosi demokrasi jika gerakan masyarakat tidak cukup terlihat, sehingga tidak ada oposisi yang kuat.

Menurutnya, ini juga menjadi isu penting yang perlu diperhatikan dan didiskusikan di tengah kehebohan pemilihan presiden 2024. (mg-3/jae)

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow