DAK Pacitan 2026 Turun, Anggaran Tetap Difokuskan ke Kesehatan dan Pendidikan

12 Jan 2026 - 17:56
DAK Pacitan 2026 Turun, Anggaran Tetap Difokuskan ke Kesehatan dan Pendidikan
Kepala Badan Keuangan Daerah Pacitan, Deni Cahyantoro, saat menjelaskan turunnya dana DAK berdasarkan Induk tahun 2025 kemarin, Senin (12/1/2026). (Foto:Feri/Afederasi)

Pacitan, (afederasi.com) – Dana Alokasi Khusus atau DAK Kabupaten Pacitan pada tahun 2026 mengalami penurunan dibandingkan alokasi induk tahun 2025.

Meski demikian, pemerintah daerah memastikan anggaran yang tersedia tetap diarahkan ke sektor layanan dasar seperti kesehatan, pendidikan, dan infrastruktur pendukung.

Kepala Badan Keuangan Daerah Pacitan, Deni Cahyantoro, menyebutkan pada tahun 2026 DAK fisik Pacitan ditetapkan sebesar Rp26,4 miliar dan DAK non fisik sebesar Rp244,72 miliar.

Angka tersebut lebih rendah dibandingkan alokasi induk DAK tahun 2025.

“Kalau dibandingkan antara induk 2025 dengan induk 2026 memang terjadi penurunan. Total DAK fisik dan non fisik turun sekitar Rp51 miliar,” ujarnya, Senin (12/1/2026).

Deni menjelaskan, meski anggaran menurun, pengelolaan DAK di Pacitan selama ini berjalan relatif aman.

Pada tahun 2025 tidak ada persoalan berarti dalam pelaksanaan, baik dari sisi kontrak maupun pencairan dana.

“DAK itu sangat terikat waktu dan tahapan dari pusat. Kalau terlambat bisa hangus. Karena itu kami selalu mengontrol dan mengingatkan OPD supaya segera berkontrak dan memenuhi syarat per termin,” katanya.

Untuk tahun 2026, DAK fisik akan diarahkan ke sektor kesehatan, korektivitas atau perbaikan jalan, serta sanitasi.

Sementara DAK non fisik difokuskan pada layanan pendidikan dan kesehatan.

Di sektor pendidikan, DAK non fisik akan digunakan untuk BOS, BOP PAUD, BOP kesetaraan, tunjangan profesi guru, serta tambahan penghasilan guru.

Sementara di sektor kesehatan dialokasikan untuk bantuan operasional kesehatan, BOK pengawasan obat dan makanan, serta BOK puskesmas.

Selain itu, anggaran non fisik juga digunakan untuk pengembangan perpustakaan daerah dan bantuan operasional keluarga berencana.

Menurut Deni, sektor pendidikan tetap menjadi salah satu pengguna DAK terbesar karena jumlah kegiatannya yang cukup banyak.

Karena itu pengawasan terhadap pelaksanaan di OPD tersebut menjadi perhatian utama.

“Yang paling banyak memang di dinas pendidikan. Jadi itu yang paling kami awasi supaya tidak terlambat. Evaluasi tahun kemarin aman tidak ada persoalan khusus,” pungkasnya.(feri)

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow