Capaian PAD Pasar di Pacitan Turun

31 Dec 2025 - 15:11
Capaian PAD Pasar di Pacitan Turun
Pasar Minulyo Pacitan, salah satu penyumbang PAD yang mengalami penuruan akibat berkurangnya pedagang, Rabu (31/12/2025). (Foto:Feri/Afederasi)

Pacitan, (afederasi.com) - Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sektor pasar yang dikelola Dinas Perdagangan Tenaga Kerja dan Koperasi (Disdagnaker) Pacitan pada tahun 2025 diperkirakan tidak bisa mencapai target seperti tahun sebelumnya.

Target PAD tahun ini dipatok sekitar Rp3,2 miliar namun hingga saat ini realisasinya baru berada di kisaran 90 persen.

Kepala Bidang Pengelolaan Pasar Disdagnaker Pacitan Bambang Surono menyebutkan, capaian tersebut lebih rendah dibandingkan realisasi tahun 2024 lalu.

Saat itu, dengan target yang sama capaian PAD berhasil menembus sekitar 97 persen.

“Untuk tahun 2025 targetnya kurang lebih Rp3,2 miliar, dan sementara ini pencapaiannya baru sekitar 90 persen. Kalau dibandingkan 2024, targetnya sama tetapi realisasinya lebih tinggi, mencapai sekitar 97 persen,” ujarnya, Rabu (31/12/2025).

Menurutnya, penurunan capaian salah satunya dipengaruhi oleh kondisi sejumlah pasar tradisional termasuk Pasar Minulyo di wilayah kota.

Saat ini jumlah pedagang maupun pengunjung yang datang ke pasar tersebut mengalami penurunan sehingga ikut berdampak pada pemasukan retribusi.

“Memang sekarang ini di Pasar Minulyo terjadi penurunan, baik jumlah pedagang maupun pengunjung. Tentu ini berpengaruh pada PAD pasar yang masuk,” jelasnya.

Di sisi lain Bambang tidak menampik bahwa potensi kebocoran retribusi juga masih mungkin terjadi.

Hal ini lantaran sebagian mekanisme penarikan retribusi pasar masih dilakukan secara manual melalui petugas pemungut.

“Kalau ditanya apakah ada potensi kebocoran, tentu potensi itu pasti ada. Karena sebagian penarikan retribusi masih manual melalui petugas pemungut,” tambahnya.

Namun demikian, Disdagnaker sebenarnya telah menyiapkan sistem pembayaran elektronik melalui QRIS Bank Jatim bagi pedagang penyewa kios atau los.

Hanya saja pemanfaatan sistem tersebut masih terbatas karena belum semua pedagang bersedia beralih ke pembayaran non-tunai.

“Untuk penyewa tempat kami sudah siapkan sistem elektronik dengan QRIS, tetapi baru sebagian kecil yang mau menggunakan. Sementara untuk retribusi lain seperti parkir khusus dan tlasaran masih melalui petugas pemungut,” terangnya.

Sebagai langkah perbaikan pihaknya terus melakukan pengawasan internal agar potensi kebocoran bisa ditekan.

Ke depan Disdagnaker juga berupaya memperluas penggunaan sistem elektronik termasuk pada pengelolaan parkir khusus dengan portal otomatis.

“Untuk menutup celah kebocoran salah satunya dengan pengawasan internal yang rutin. Selain itu, kami berupaya mendorong sistem elektronik seperti parkir khusus yang nanti menggunakan portal elektronik, sehingga lebih transparan,” pungkasnya.

Dengan berbagai upaya tersebut, Disdagnaker berharap ke depan PAD sektor pasar bisa kembali meningkat sekaligus tetap menjaga agar aktivitas ekonomi di pasar tradisional tetap berjalan. (Feri)

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow