BPKAD Lamongan Gelar Doa Bersama untuk Korban Bencana

31 Dec 2025 - 19:54
BPKAD Lamongan Gelar Doa Bersama untuk Korban Bencana
Doa Lintas Agama Untuk Lamongan dan Korban Bencana Alam. (Iyan Farikh/afederasi.com)

Lamongan, (afederasi.com) – Sebagai bentuk kepedulian terhadap sesama, Pemkab Lamongan melalui Badan Pengelola Keungan dan Aset Daerah (BPKAD) menggelar acara doa bersama lintas agama dan tradisi ruwatan melalui pergelaran wayang kulit sebagai penanda penutup akhir tahun 2025. Acara ini ditujukan khusus untuk mendoakan para korban bencana alam yang melanda beberapa wilayah di Indonesia, seperti Sumatera dan Aceh.

Kegiatan yang berlangsung khidmat ini dihadiri oleh Bupati Lamongan, Serta jajaran Forkopimda Kabupaten Lamongan dan berbagai elemen masyarakat, mulai dari tokoh agama hingga perwakilan suku bangsa yang menetap di Lamongan, seperti suku Batak dan Madura. Kehadiran mereka menunjukkan semangat kebhinekaan yang kuat dalam menghadapi cobaan bangsa.

Kepala BPKAD Lamongan, Heruwidi, menjelaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar seremoni, melainkan sebuah bentuk solidaritas nyata.

"Ini adalah bagian dari rangkaian acara doa bersama untuk mendoakan saudara-saudara kita di Sumatera dan Aceh yang sedang tertimpa musibah. Semoga mereka diberikan kekuatan, kesabaran, dan amal ibadah mereka diterima oleh Allah SWT," ujar Heruwidi, Rabu (31/12/2025).

Tak hanya mendoakan korban bencana, acara ini juga menjadi momen permohonan keselamatan bagi seluruh warga Kabupaten Lamongan. Doa lintas agama menjadi sorotan utama, mencerminkan kerukunan antarumat beragama yang terjaga dengan baik di Kabupaten Lamongan.

Puncak acara ditandai dengan tradisi ruwatan murwakala melalui media wayang kulit. Heruwidi mengungkapkan, ruwatan ini mengandung makna filosofis yang dalam, yakni merawat, menjaga, dan mengantisipasi segala bentuk marabahaya.

"Ruwatan itu artinya merawat. Merawat itu menjaga, dan menjaga itu antisipasi. Jangan sampai kita tertimpa bencana atau marabahaya. Ini adalah bentuk antisipasi kita yang diwujudkan dalam pagelaran budaya," tambahnya.

Berbagai simbol tradisi seperti aneka jenis tumpeng, mulai dari tumpeng golong, tumpeng bukat, hingga tumpeng kuning dan ingkung ayam turut dihadirkan sebagai bagian dari ritual ruwatan. Hal ini dilakukan untuk melestarikan adat budaya Nusantara, khususnya seni wayang kulit yang menjadi kebanggaan bangsa.

Acara ditutup dengan harapan agar semangat gotong royong dan kepedulian antar sesama terus tumbuh di tengah masyarakat, serta Indonesia senantiasa dilindungi dari segala marabahaya. (yan)

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow