Becak Listrik Bantuan Presiden Belum Dongkrak Pendapatan, Penumpang Justru Menurun

29 Jun 2026 - 15:07
Becak Listrik Bantuan Presiden Belum Dongkrak Pendapatan, Penumpang Justru Menurun
Pengemudi becak listrik bantuan Presiden Prabowo Subianto, saat mangkal menunggu penumpang di kawasan Alun-alun Pacitan. (Foto:Feri/Afederasi)

Pacitan, (afederasi.com) - Bantuan becak listrik dari Presiden Prabowo Subianto yang diterima sejumlah pengemudi becak lima bulan lalu di Pacitan, meski membuat pekerjaan lebih ringan bantuan tersebut belum sepenuhnya mampu meningkatkan pendapatan para pengemudi. 

Sepinya penumpang dan ketatnya persaingan dengan transportasi berbasis aplikasi masih menjadi tantangan utama.

Salah seorang penerima bantuan, Sutrisno (62), warga Bangunsari, mengatakan becak listrik memang lebih nyaman dibanding becak kayuh karena tidak lagi mengandalkan tenaga untuk mengayuh. 

Namun, kendaraan tersebut tidak selalu digunakan untuk mencari penumpang karena kecepatannya terbatas.

"Kalau mengejar penumpang kadang masih pakai becak lama. Becak listrik jalannya pelan, sedangkan penumpang sekarang cepat memilih kendaraan lain," ujarnya, Senin (29/6/2026).

Menurutnya, kecepatan becak listrik hanya sekitar 15 kilometer per jam. Kondisi tersebut membuat sebagian pengemudi tetap mempertahankan becak kayuh untuk mencari penumpang, terutama saat berada di lokasi yang ramai.

Di sisi lain, keberadaan ojek online membuat jumlah penumpang becak terus menurun. 

Tarif becak yang selama ini menggunakan sistem tawar-menawar dinilai semakin sulit bersaing dengan layanan transportasi berbasis aplikasi yang menawarkan harga lebih murah dan dapat dipesan melalui telepon genggam.

"Kalau ke Arjowinangun biasanya Rp15 ribu. Tapi sekarang masyarakat lebih memilih Grab karena tarifnya lebih murah. Kami tidak bisa pakai aplikasi, jadi hanya menunggu penumpang datang," katanya.

Akibat kondisi tersebut, pendapatan pengemudi becak tidak menentu. Dalam sehari mereka terkadang hanya memperoleh satu kali tarikan dengan penghasilan sekitar Rp15 ribu. Bahkan tidak jarang seharian mangkal tanpa mendapatkan penumpang sama sekali.

Sutrisno memperkirakan masih ada sekitar 100 becak yang beroperasi di wilayah Kota Pacitan. Sebagian pengemudinya telah menerima bantuan becak listrik yang diprioritaskan bagi pengemudi berusia 56 tahun ke atas.

Meski demikian, ia menilai bantuan kendaraan akan lebih bermanfaat apabila diikuti upaya menghidupkan kembali minat masyarakat menggunakan becak. 

Salah satunya dengan mengembangkan becak listrik sebagai sarana wisata di kawasan Alun-alun maupun Pancer Door pada malam hari.

"Kalau dijadikan becak wisata mungkin bisa lebih ramai. Malam Minggu banyak keluarga dan anak muda yang jalan-jalan, jadi becak masih punya peluang," tuturnya.

Hal senada disampaikan Slamet (59), pengemudi becak lainnya. Menurutnya, becak listrik memang meringankan pekerjaan para pengemudi yang sudah lanjut usia. 

Namun, tanpa peningkatan jumlah penumpang, keberadaan kendaraan tersebut belum berdampak signifikan terhadap penghasilan.

"Becaknya sudah bagus dan lebih ringan dijalankan. Tapi kalau penumpangnya tetap sepi karena masyarakat beralih ke ojek online, penghasilan kami juga tidak banyak berubah," katanya.

Para pengemudi berharap bantuan becak listrik tidak berhenti pada penyediaan kendaraan semata. 

Mereka menginginkan adanya dukungan lanjutan dari pemerintah daerah agar keberadaan becak listrik benar-benar mampu meningkatkan kesejahteraan para pengemudi.

Salah satu yang diusulkan ialah pengembangan becak wisata maupun promosi transportasi tradisional di kawasan Alun-alun dan Pancer Door. 

Dengan begitu, becak listrik tidak hanya berfungsi sebagai alat angkut, tetapi juga memiliki nilai ekonomi baru melalui sektor pariwisata.(fer)

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow