Antisipasi Banjir di DKI Jakarta: Langkah-langkah Cermat Menjelang Musim Hujan
Dalam rangka menghadapi musim hujan yang semakin mendekat, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memproyeksikan bahwa musim kemarau akan berakhir, namun dampak dari El Nino moderat masih akan berlangsung hingga Februari-Maret 2024.
Jakarta, (afederasi.com) - Dalam rangka menghadapi musim hujan yang semakin mendekat, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memproyeksikan bahwa musim kemarau akan berakhir, namun dampak dari El Nino moderat masih akan berlangsung hingga Februari-Maret 2024. Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, menyatakan bahwa saat ini, Indonesia sudah memasuki wilayah Monsun Asia, dan dengan demikian, perkiraan hujan akan segera dimulai pada November 2023.
Menyambut musim hujan, Penjabat Gubernur DKI Jakarta, Heru Budi Hartono, telah mengimplementasikan berbagai strategi untuk mengatasi ancaman banjir yang kerap terjadi selama musim hujan. Langkah-langkah ini mencakup tindakan sebelum, selama, dan setelah banjir terjadi.
Dalam upaya meningkatkan kapasitas saluran air dan mencegah genangan air, Dinas Sumber Daya Air (SDA) Provinsi DKI Jakarta telah memulai konstruksi pintu air di berbagai wilayah, termasuk Tanjung Barat dan Gandaria. Selain itu, upaya normalisasi saluran air dan pembangunan kolam penampungan air juga sedang dilakukan.
Dalam persiapan menghadapi banjir, Dinas SDA DKI Jakarta telah menetapkan lima langkah kunci. Pertama, pengurasan saluran air atau drainase dilakukan untuk memastikan aliran air tidak terhambat oleh sampah atau lumpur. Kedua, pengerukan waduk di Jakarta, seperti Waduk Jakarta Garden City, Waduk Rambutan, dan Waduk Pondok Ranggon, dilakukan untuk meningkatkan kapasitas penampungan air.
Pada puncak musim hujan, ratusan pompa air akan disiapkan di titik-titik kritis. Sejauh ini, Pemprov DKI Jakarta memiliki 475 unit pompa stasioner dan 429 unit pompa mobile yang akan memaksimalkan pengendalian banjir di wilayah yang rentan terkena banjir.
Normalisasi kali/sungai dan perbaikan tanggul di wilayah Jakarta Utara dan Jakarta Barat juga termasuk dalam langkah-langkah pengendalian banjir. Untuk mengatasi banjir rob, sedang dilakukan pembangunan tanggul pengaman pantai dalam proyek Tanggul National Capital Integrated Coastal Development (NCICD) Fase A dengan target selesai pada tahun 2027.
Upaya lainnya adalah pembuatan sumur resapan atau drainase vertikal yang mampu menahan debit air hujan, sehingga mengurangi risiko banjir. Sejauh ini, telah dibangun sumur resapan di 26.000 titik di seluruh wilayah DKI Jakarta.
Selain itu, penanaman pohon mangrove juga menjadi prioritas dalam upaya pengendalian banjir. Pohon mangrove mampu menahan arus air laut dan mencegah abrasi. Dalam proyek penanaman mangrove, Pemprov DKI Jakarta berkolaborasi dengan sejumlah perusahaan swasta, seperti PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk, PT Solusi Bangun Indonesia, dan PT Maybank Indonesia.
Tak hanya itu, Sodetan Ciliwung, yang sempat mangkrak bertahun-tahun, kini sudah rampung dan dapat mengurangi banjir di Jakarta hingga 60%. Dengan berbagai langkah antisipasi ini, Pemprov DKI Jakarta berupaya meminimalkan dampak banjir yang kerap mengganggu ibu kota.
Dalam menghadapi banjir, Pemprov DKI Jakarta juga menyusun strategi operasional dan menempatkan satuan tugas di titik-titik rawan banjir untuk membersihkan lokasi banjir dan memastikan pompa pengendali banjir berfungsi dengan baik saat dibutuhkan. Semua langkah ini menjadi bagian dari upaya bersama untuk mengurangi dampak banjir dan memastikan kenyamanan warga Jakarta saat musim hujan tiba. (mg-1/jae)
What's Your Reaction?



