Angka Stunting di Pacitan Turun, PMII Ingatkan Dinkes Jangan Terlena

05 Jan 2026 - 21:46
Angka Stunting di Pacitan Turun, PMII Ingatkan Dinkes Jangan Terlena
Mandataris Ketua Umum PC PMII Pacitan, Sunardi dalam sambutannya disebuah acara, Senin (5/1/2026). (Foto: PMII for Afederasi)

Pacitan, (afederasi.com) - Angka stunting di Kabupaten Pacitan kembali dilaporkan mengalami penurunan. Berdasarkan hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2024, prevalensi stunting di Pacitan berada pada angka 11,8 persen.

Pada 2025, tren tersebut disebut terus bergerak turun seiring pelaksanaan berbagai program intervensi gizi yang dilakukan pemerintah daerah.

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Pacitan, Nunuk Irawati, membenarkan bahwa angka stunting sudah menunjukkan penurunan dalam beberapa tahun terakhir.

“Stunting di Pacitan turun. Ini menunjukkan program intervensi berjalan,” ujarnya, Senin (5/1/2026).

Penurunan angka ini tentu menjadi kabar baik. Namun di sisi lain, sejumlah pihak mengingatkan agar pemerintah daerah tidak terburu-buru merasa puas.

Sebab, stunting bukan hanya soal data. Tetapi berkaitan langsung dengan kondisi anak-anak Pacitan, terutama mereka yang hidup di keluarga dengan keterbatasan ekonomi.

Mandataris Ketua Umum, Sunardi, menilai bahwa tren penurunan ini tetap harus disikapi secara hati-hati. Ia menegaskan bahwa angka statistik tidak selalu sepenuhnya mewakili kondisi faktual di lapangan.

“Kita jangan hanya fokus pada angka. Yang terpenting adalah memastikan kondisi di lapangan benar-benar membaik,” kata Sunardi.

Menurutnya, stunting merupakan persoalan yang kompleks. Bukan hanya urusan kesehatan. Ada pengaruh pendapatan keluarga.

Pola konsumsi, akses layanan kesehatan, hingga kualitas sanitasi. Karena itu, ia menilai evaluasi program tetap harus berjalan meskipun angka prevalensi sudah turun.

“Saya berharap penurunan ini bukan sekadar administrasi laporan. Tapi memang terjadi pada anak-anak kita di Pacitan,” tambahnya.

Sunardi juga menyoroti pentingnya keterbukaan informasi publik. Ia menilai masyarakat berhak mengetahui bagaimana pelaksanaan program pencegahan stunting.

Termasuk sejauh mana dampaknya bagi balita di wilayah pedesaan yang selama ini sulit mengakses fasilitas kesehatan.

Di sisi lain, Dinas Kesehatan Pacitan memastikan bahwa program penurunan stunting tetap menjadi prioritas.

Intervensi gizi untuk ibu hamil dan balita disebut terus dilakukan. Selain itu, edukasi kepada keluarga dan pendampingan kesehatan masyarakat juga diperluas.

Program lintas sektor tetap dijalankan. Mulai dari pemberian makanan tambahan, skrining kesehatan, hingga peningkatan peran kader.

Pemerintah berharap upaya ini benar-benar memberi dampak jangka panjang terhadap kualitas tumbuh kembang anak.

Sementara pemerintah dituntut memastikan intervensi tepat sasaran, transparan, dan berkelanjutan.

Pacitan masih menempatkan stunting sebagai isu prioritas pembangunan daerah. Penurunan angka memang menjadi indikator keberhasilan.

Namun banyak pihak berharap perhatian tidak berhenti pada laporan capaian.

Yang lebih utama adalah memastikan tidak ada lagi anak-anak Pacitan yang tumbuh dengan hambatan perkembangan akibat kekurangan gizi.(feri)

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow