AKP Teguh Santoso dan Kolam Lele di Pekarangan: Polisi yang Menebar Asa di Tengah Desa
Situbondo, (afederasi.com) – Di tengah riuhnya tugas sebagai aparat penegak hukum, siapa sangka seorang perwira polisi di Situbondo justru menjadi inspirasi baru bagi para pemuda desa. Dia adalah AKP Teguh Santoso, Kapolsek Kapongan, yang menjadikan pekarangan rumahnya sebagai kolam lele penuh harapan.
Bukan sekadar usaha sampingan, kolam lele milik AKP Teguh telah menjadi simbol perlawanan terhadap ketergantungan ekonomi dan sumber inspirasi kemandirian bagi masyarakat sekitarnya. Empat petak kolam sederhana, berisi ribuan bibit lele, tumbuh dari niat tulus dan modal pribadi. Semuanya bermula dari lahan kosong yang tak pernah terpikirkan akan menjadi sumber kehidupan.
“Awalnya hanya ingin memanfaatkan pekarangan yang nganggur. Tapi dari situ saya sadar, kalau kita bisa berbuat lebih untuk sekitar. Lele ini bukan hanya soal jual beli, tapi soal nilai: berbagi, membimbing, dan membangun kemandirian,” ujar AKP Teguh dengan senyum tenang.
Tak sendirian, kini ada empat orang warga yang setiap hari bergantian membantu mengelola kolam. Mereka memberi pakan, memantau kualitas air, dan mempersiapkan panen. Sekali panen, omsetnya bisa mencapai jutaan rupiah. Namun lebih dari itu, yang dibangun AKP Teguh adalah kepercayaan dan semangat.
“Sebenarnya susah-susah gampang. Tapi kalau niatnya tulus, pasti ada jalan,” tambahnya.
Langkah kecil itu pun menumbuhkan pengaruh besar. Tohir Jamhari, seorang pemuda desa Seletreng, memilih pulang dari Surabaya dan memulai lembar baru: menjadi peternak lele. Ia datang, belajar dari nol, dan kini bersiap mengembangkan usaha serupa bersama temannya.
“Pak Teguh bukan hanya ngajari cara ternak lele, tapi juga ngajari disiplin, cara berpikir, dan kasih motivasi. Kami merasa ditemani, bukan sekadar diberi tahu,” ujar Tohir.
Bagi AKP Teguh, inilah bentuk pengabdian yang utuh. Bekerja untuk negara tak harus terbatas pada seragam dan senjata. Ia menunjukkan bahwa membangun keamanan bisa dilakukan dari balik pagar rumah dengan kolam, dengan lele, dan dengan tangan terbuka.
“Sebaik-baiknya polisi adalah yang dicintai rakyatnya,” katanya lirih, sembari memandangi air kolam yang tenang.
Dan di tengah kolam itu, ada cita-cita yang tumbuh. Tentang desa yang mandiri. Tentang pemuda yang kembali pulang. Tentang seorang polisi yang menanam harapan dengan lele, dan cinta.(vya/dn)
What's Your Reaction?



