Agen BRILink Puncu Kediri Jadi Perpanjangan Tangan Keluarga Karyawan
Kediri, (afederasi.com) - Sudah 6 tahun, Gita Ayuningtyas warga Dusun Sidorejo Desa Asmorobangun Kecamatan Puncu Kabupaten Kediri menjadi agen BRILink.
Perempuan 33 tahun ini menjadi perpanjangan tangan BRI untuk melayani transaksi perbankan bagi para pekerja pabrik maupun masyarakat secara real time, dengan menggunakan fitur EDC mini ATM BRI dengan konsep sharing fee atau komisi bagi hasil dari BRI.
Perpanjangan tangan yang dimaksud adalah proses transaksi upah karyawan pabrik ayam petelur di daerahnya.
Para pekerja ini lebih memilih mencairkan upah perminggu yang didapatkan kepada agen BRILink milik Gita.
Gita menuturkan, memang nasabah BRI di wilayahnya rata-rata merupakan pekerja pabrik ayam petelur dari luar daerah yang menitipkan transferan untuk anak istrinya di rumah.
Mereka ini biasanya akan mentransfer seminggu sekali ketika mendapatkan pencairan honor.
Para nasabah tersebut ternyata lebih senang menggunakan jasanya dibandingkan harus datang ke bank maupun anjungan tunai mandiri (ATM) di cabang setempat.
Betapa tidak, salah satu alasan kemudahan di agen BRILink adalah bisa pencairan tanpa kelipatan Rp 50 ribu hingga Rp 100 ribu, seperti bisa pecahan Rp 20 ribu atau Rp 30 ribu.
"Kalau uang Rp 20 atau Rp 30 itu kan berharga bagi para karyawan ini. Sedangkan kalau di ATM tidak bisa, karena mengendap. Ditambah lagi anggapan kalau harus ke bank perlu tampil rapi dan harum. Kalau ke kios saya, biarpun pakai baju kaos dan celana pendek tidak masalah," terangnya, Minggu (25/6/2023).
Pemilik Kios Sari Praja di Jalan Puncak Dusun Sumbersuko Desa Asmorobangun, Kecamatan Puncu, Kabupaten Kediri, Jawa Timur ini mengaku pekerja pabrik ayam petelur menjadi salah satu profesi yang banyak menggunakan jasanya.
Pabrik tersebut tersebar di seluruh Desa Asmorobangun, paling dekat terletak persis di depan kios Gita.
Mereka ini ada yang menetap di sekitar tempat usaha Gita, adapula yang pulang ke rumah masing-masing. Namun, bukan hanya pekerja proyek saja senang menggunakan jasa agen Brilink.
Beberapa pelaku ukm kecil hingga kenalannya yang menetap di luar desa juga banyak memilih transfer dari tokonya.
Terlebih lokasi kios Gita paling dekat dengan warga karena di daerah lereng Gunung Kelud. Untuk ATM atau bank terdekat, warga harus melakukan perjalan sejauh 10 km ke arah kota.
Gita mengaku angka transfer dan setoran dari para naskah tersebut bisa menyentuh angka ratusan juta untuk jangka waktu hitungan hari.
Dalam sehari, kios milik Gita bisa melayani transaksi Brilink hingga 100 kali transaksi. Sementara setiap bulannya bisa melayani hingga 2.500 lebih transaksi berbagai jenis mulai dari transfer, pembayaran pajak hingga pembayaran listrik.
"Kalau yang bantu di kios saya ada sekitar 8 orang, namun yang saya percayakan untuk operasi di BRILink cuma satu orang karyawan," paparnya.
Diakuinya, peran sebagai agen jasa keuangan tersebut di luar bayangannya. Dapat membantu mempermudah akses keuangan baik diri sendiri, tetangga maupun kenalannya.
Gita mengaku bergabung sebagai agen Brilink sejak tahun 2016. Sempat pesimis karena dalam satu hari tak ada yang transaksi dan alat nganggur karena tak pernah terpakai.
Alasannya, masyarakat saat itu belum mengetahui dan belum berani untuk transaksi pada kios BRILink.
"Awalnya cuma ada 5 orang sampai 10 orang saja setiap harinya. Baru pada 2017 mulai banyak yang tahu dan bayar ke sini," urainya.
Gita yang juga berprofesi sebagai penjual sembako ini mengaku justru pendapatan yang diperoleh sangat besar usai dirinya bergabung menjadi agen BRILink.
Menurutnya, agen Brilink dan toko sembako saling melengkapi. Dia mencontohkan jika mengandalkan sebagai agen BRilink saja maka perlu operasional sendiri. Ceritanya menjadi lain saat disandingkan sebagai agen jasa keuangan atau penjual sembako.
"Apalagi di era digital sekarang sangat membantu. Kalau transfer dan sekalian belanja bisa lebih banyak diperoleh sebagai pedagang kecil seperti saya," jelasnya.
Peran agen BRILink seperti Gita kini menjadi salah satu penopang dalam meningkatkan digitalisasi dalam proses transaksi. Tak terkecuali pelaku usaha kecil.
Tak jarang, selain karyawan, beberapa kelompok usaha atau anggota UMi (usaha mikro) di wilayah Asmorobangun mengaku sangat terbantu adanya program dan kios tersebut.
Selain mempermudah dalam permodalan, juga menjadikan tambahan dalam pemasukan bagi keluarga.
Salah satu nasabah, Kusrini Hernani (45) mengaku senang dengan adanya kios BRILink di desa Asmorobangun.
Jarak yang dekat sekaligus fleksibilitas waktu dalam transaksi yang didapat membuat dirinya tak harus menempuh jarak jauh untuk melakukan segala bentuk pembayaran.
"Kadang mau tukar uang, tranfer ke pembeli juga lewat sini, lebih cepat juga dan tidak ada batasan waktu," ucap ibu penjual keripik singkong sekaligus karyawan ayam petelur ini. (sya/dn)
What's Your Reaction?



