Tinjau Banjir di Banyuglugur, Gubernur Khofifah Dorong Pengerukan Sungai dan Modifikasi Cuaca di Situbondo

23 Jan 2026 - 21:43
Tinjau Banjir di Banyuglugur, Gubernur Khofifah Dorong Pengerukan Sungai dan Modifikasi Cuaca di Situbondo
Gubenur jatim di dampingi bupati, Wabup, beserta Kapolres Situbondo saat melakukan kunjungan ke warga terdampak banjir (alifia rahma/afederasi.com)

Situbondo, (afederasi.com) – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa meninjau langsung sejumlah lokasi terdampak banjir di Desa Kalianget dan Desa Lubawang, Kecamatan Banyuglugur, Kabupaten Situbondo, Jumat (23/1/2026). Kunjungan ini merupakan bentuk respons cepat Pemerintah Provinsi Jawa Timur terhadap bencana hidrometeorologi yang melanda wilayah tersebut.

Dalam peninjauan tersebut, Gubernur Khofifah didampingi Bupati Situbondo Yusuf Rio Wahyu Prayogo serta Wakil Bupati Ulfiyah. Rombongan meninjau kondisi Sungai Lubawang yang selama ini menjadi salah satu titik rawan banjir akibat sedimentasi dan meluapnya debit air saat curah hujan tinggi.

Selain mengecek kondisi sungai, Gubernur Khofifah juga berdialog dengan warga terdampak sekaligus menyerahkan bantuan. Ia menegaskan, Pemprov Jatim terus mengintensifkan langkah-langkah mitigasi guna menekan risiko banjir, salah satunya melalui program pengerukan sungai di sejumlah daerah rawan.

Khofifah mengungkapkan, pengerukan sungai telah dilakukan secara signifikan di Kecamatan Mlandingan dan Kendit. Upaya tersebut dinilai mulai menunjukkan hasil positif.

“Sejauh ini kondisi di Mlandingan dan Kendit sudah jauh membaik,” ujar Khofifah di sela kunjungan.

Ia juga memaparkan bahwa curah hujan pada Januari 2026 mengalami peningkatan signifikan dibandingkan bulan sebelumnya. Berdasarkan data yang diterima, intensitas hujan pada Januari hampir tiga kali lipat dibandingkan Desember, sementara pada Februari diperkirakan masih berada di kisaran 22 persen.

Untuk mengantisipasi dampak cuaca ekstrem, Pemprov Jatim telah melaksanakan operasi modifikasi cuaca sejak 5 Desember 2025. Namun, pelaksanaannya masih dilakukan secara terbatas akibat keterbatasan anggaran daerah.

“Idealnya, Jawa Timur bisa melakukan modifikasi cuaca di empat hingga lima titik. Namun karena keterbatasan APBD, saat ini baru dapat dilakukan di dua sampai tiga titik,” jelasnya.

Gubernur Khofifah menerangkan, modifikasi cuaca dilakukan melalui dua metode, yakni penaburan garam pada awan di wilayah laut dan penaburan kapur pada awan yang telah bergerak ke daratan. Langkah ini bertujuan agar hujan turun lebih merata dan tidak terkonsentrasi di satu wilayah.

“Tujuannya agar hujan tidak menumpuk di satu daerah, tetapi tersebar secara merata,” tambahnya.

Dalam kesempatan tersebut, Khofifah juga menginstruksikan Dinas Cipta Karya Provinsi Jawa Timur untuk menambah bronjong berlapis di sepanjang bantaran Sungai Lubawang guna memperkuat tebing sungai. Meski demikian, ia menegaskan bahwa penguatan tebing harus diimbangi dengan normalisasi sungai melalui pengerukan sedimen.

“Penguatan tebing penting, tetapi normalisasi sungai tetap harus dilakukan dengan pengerukan,” tegasnya.

Pemprov Jatim juga berencana menurunkan alat berat berupa ekskavator untuk mendukung proses normalisasi sungai. Namun, teknis akses alat berat tersebut masih akan dikoordinasikan dengan Pemerintah Kabupaten Situbondo, mengingat keterbatasan jalur yang harus melewati kawasan permukiman warga.

“Jika ekskavator tidak memungkinkan masuk melalui permukiman, kami akan berkoordinasi dengan bupati untuk menentukan titik akses yang paling memungkinkan,” ujarnya.

Berdasarkan hasil tinjauan lapangan, Khofifah menyebut sedimentasi di sejumlah titik Sungai Lubawang cukup tebal. Mengingat wilayah tersebut akan segera memasuki musim tanam, Pemprov Jatim melalui Dinas Sumber Daya Air akan menyiapkan sarana pengairan sementara berupa pipa-pipa agar kebutuhan air pertanian warga tetap terpenuhi.

“Menjelang musim tanam, pengairan sawah warga harus tetap aman,” pungkasnya.(vya/dn) 

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow