Terapi Insulin di Fasilitas Kesehatan Pertama: Efisiensi Dana JKN hingga Rp 1,7 Triliun

Terapi insulin, sebagai salah satu pengobatan utama bagi pasien diabetes melitus (DM), telah menjadi fokus pembahasan dalam upaya penghematan anggaran Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

20 Dec 2023 - 09:26
Terapi Insulin di Fasilitas Kesehatan Pertama: Efisiensi Dana JKN hingga Rp 1,7 Triliun
Ilustrasi suntik insulin pasien diabetes. (Shutterstock)

Jakarta, (afederasi.com) - Terapi insulin, sebagai salah satu pengobatan utama bagi pasien diabetes melitus (DM), telah menjadi fokus pembahasan dalam upaya penghematan anggaran Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

Hingga kini, insulin hanya tersedia di rumah sakit rujukan tingkat lanjut, namun pakar kesehatan menyoroti potensi efisiensi jika pemberian insulin dapat dilakukan di fasilitas layanan kesehatan tingkat pertama, seperti puskesmas.

Prof. Budi Hidayat dari Center for Health Economics and Policy Studies (CHEPS FKMUI) menjelaskan bahwa langkah ini dapat menghemat dana JKN hingga 14 persen atau sekitar Rp 1,7 triliun per tahun.

Studi yang dilakukan oleh CHEPS FKMUI juga menekankan bahwa pemindahan pemberian insulin ke layanan kesehatan tingkat pertama mendukung transformasi kesehatan dalam aspek layanan primer dan pembiayaan kesehatan.

"Dengan memberikan insulin di tingkat pertama, bukan hanya efisiensi anggaran yang tercapai, tetapi juga penguatan pada fasilitas kesehatan tingkat pertama. Insulin saat ini hanya tersedia di fasilitas rujukan tingkat lanjutan, padahal pemberian insulin lebih optimal dan efisien di tingkat pertama," ungkap Prof. Budi dalam konferensi pers CHEPS FKM UI seperti yang dilansir dari Suara.com media partner afederasi.com, Senin (18/12/2023) lalu. 

Meski mendukung akses yang lebih mudah terhadap insulin, Prof. Budi juga menyarankan agar insulin tetap diberikan dengan bijaksana. Ia menekankan bahwa insulin sebaiknya tidak diberikan kepada pasien DM tipe 2 yang baru sakit selama 5 tahun. Menurutnya, pada tahap ini, penyakit sudah berkembang menjadi komplikasi, dan pengobatan dengan obat-obatan biasa tidak lagi cukup.

"Pemberian insulin seharusnya lebih dekat dengan masyarakat, tetapi kita perlu bijak dalam memberikannya, terutama untuk pasien DM tipe 2 yang baru 5 tahun sakit. Pada tahap ini, penyakit sudah menjadi kompleks, dan insulin diperlukan untuk mengendalikan kondisi kesehatan," ujar Prof. Budi.

Pemberian insulin di fasilitas kesehatan tingkat pertama tidak hanya berpotensi menghemat dana JKN, tetapi juga menghilangkan kebutuhan rujukan ke rumah sakit tingkat lanjut. Namun, Prof. Budi memberi peringatan bahwa pembiayaan insulin sendiri bukanlah hal yang murah.

"Selain penghematan, kita juga menghilangkan kebutuhan akan rujukan ke fasilitas kesehatan lanjutan. Namun, kita perlu menyadari bahwa pembiayaan insulin bukanlah hal yang murah," ujar Prof. Budi.

Menurutnya, memindahkan pemberian insulin ke fasilitas kesehatan tingkat pertama akan memberikan keuntungan aksesibilitas bagi pasien, mengurangi perjalanan jauh ke fasilitas kesehatan lanjutan, dan meningkatkan kedisiplinan pasien dalam menjalani pengobatan.

Insulin, sebuah hormon alami yang dihasilkan oleh organ pankreas, menjadi penentu penting dalam mengontrol kadar gula darah dan mengelola glukosa sebagai sumber energi tubuh. Namun, pada pasien diabetes melitus (DM), pankreas kehilangan kemampuannya untuk memproduksi insulin.

Sebagai hasilnya, pengobatan insulin menjadi suatu keharusan, terutama bagi pasien DM tipe 1 dan tipe 2 yang mengalami ketidakmampuan mengendalikan penyakit mereka. Kemudahan akses terhadap insulin di tingkat pertama diharapkan dapat meningkatkan kualitas pengobatan, membantu mengontrol penyakit, dan mencegah terjadinya komplikasi yang dapat mengancam kesehatan pasien.(mg-2/mhd)

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow