Rumah Sakit Indonesia di Gaza Menghadapi Ancaman Berhenti Total Operasi karena Kekurangan Bahan Bakar

Rumah Sakit Indonesia di Gaza berpotensi untuk berhenti total beroperasi karena kehabisan bahan bakar atau BBM.

10 Nov 2023 - 08:38
Rumah Sakit Indonesia di Gaza Menghadapi Ancaman Berhenti Total Operasi karena Kekurangan Bahan Bakar
Ilustrasi RS Indonesia di Gaza (freepik)

Gaza, (afederasi.com) - Rumah Sakit Indonesia di Gaza berpotensi untuk berhenti total beroperasi karena kehabisan bahan bakar atau BBM. Direktur RS Indonesia di Gaza, "Hari ini, Kamis tanggal 9 November 2023, solar untuk RS Indonesia tersisa 1.100 liter dan ini hanya cukup untuk satu hari saja," ucap Atef al-Kahlout seperti yang dilansir dari Suara.com media partner afederasi.com.

"RS Indonesia akan berhenti beroperasi total besok jika tidak ada solar untuk menghidupkan generator sebagai sumber listrik." tambahnya seperti yang dilansir dari Suara.com media partner afederasi.com. Pernyataan ini disampaikan melalui akun lembaga kemanusiaan MER-C Indonesia di platform Twitter.

Relawan MER-C yang berada di RS Indonesia, Fikri Rofiul Haq, melaporkan pada Rabu (8/11) bahwa bantuan kemanusiaan belum dapat masuk ke wilayah utara Gaza, tempat RS Indonesia berada. "Memang ada beberapa truk yang diizinkan masuk ke Jalur Gaza, tapi (bantuan) dari beberapa truk itu belum bisa dibagikan secara merata," kata Fikri seperti yang dilansir dari Suara.com media partner afederasi.com.

"Sedangkan Jalur Gaza tengah terus dibombardir (Israel) untuk memisahkan Gaza selatan dengan utara." ucapnya seperti yang dilansir dari Suara.com media partner afederasi.com. Pintu perbatasan di Rafah juga ditutup, menyebabkan pergerakan warga dan bantuan kemanusiaan kembali tertahan.

Dikutip dari berbagai sumber, pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Gaza dimulai sejak Mei 2011. Tanah yang digunakan untuk rumah sakit ini adalah wakaf dari Pemerintah Palestina di Gaza dan didanai oleh donasi rakyat Indonesia melalui organisasi kemanusiaan MER-C.

Ide pembangunan rumah sakit ini muncul saat tim medis pemerintah Indonesia dan MER-C menyalurkan bantuan pada korban serangan Israel di Palestina pada awal 2009. RS Indonesia dibangun sebagai respons terhadap agresi yang berlangsung lebih dari 20 hari dengan jumlah korban jiwa mencapai 1,366 orang, termasuk anak-anak, wanita, dan janda.

Meski memiliki ide yang mulia, pembangunan RS Indonesia di Gaza tidak selalu berjalan lancar. Tim pembangunan mengalami kesulitan masuk ke Gaza, menunggu selama setahun sebelum akhirnya meluncurkan Misi Freedom Flotilla pada tahun 2010. Namun, perjalanan kapal pembawa relawan dan bantuan masih harus menahan serangan dari Israel, menewaskan sembilan orang.

Setelah berbagai tantangan, pembangunan akhirnya dimulai pada 2011 dengan melibatkan tim internasional dan relawan. Meskipun sempat terkendala, RS Indonesia di Gaza menjadi simbol solidaritas dan kontribusi Indonesia dalam upaya kemanusiaan di wilayah konflik. (mg-1/jae)

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow