Melacak Jejak Rasa Legendaris Pecel Lele Budi Luhur Jombang, Banyak Diburu Pembeli
Jombang, (afederasi.com) - Di ruas jalan yang menghubungkan Jombang dan Nganjuk, sebuah warung sederhana telah menjadi magnet pencinta kuliner selama lebih dari tiga dekade. Bukan hanya soal memuaskan lapar, tetapi tentang menghidupkan kembali kenangan akan rasa yang konsisten dan autentik. Inilah cerita di balik keistimewaan Pecel Lele Budi Luhur, legenda hidup di Gondangmanis, Jombang, yang bertahan di tengah arus kuliner modern.
Dari kejauhan, hanya terlihat kerumunan pelanggan dan kepulan asap mengepul dari area penggorengan. Lokasinya yang strategis di Dusun Manisrenggo, Desa Gondangmanis, Kecamatan Bandar Kedungmulyo, Kabupaten Jombang, tepat di sisi kanan jalan dari arah Jombang menuju Nganjuk, membuat warung ini sulit untuk dilewatkan. Sejak era 1990-an, Pecel Lele Budi Luhur telah menjadi ritual kuliner wajib bagi warga lokal hingga para pengendara yang melintas.
Farida, sang pengelola, dengan gesit melayani pembeli yang tak pernah sepi. "Yang menjadi andalan ya pecel lele ini. Rahasia utamanya di sambal mentah yang selalu disajikan segar," ujar Farida kepada Afederasi.com, Jumat (23/01/2026).
Sambal "mentah" yang dimaksud adalah racikan cabai, terasi, bawang, dan rempah yang diulek manual, menjaga kesegaran dan aroma yang "nendang". Sambal inilah yang membedakannya, berwarna merah segar, bukan kecokelatan atau kehitaman, dengan rasa terasi yang harum dan tidak amis.
Menu andalan, Pecel Lele (isi 2), dibanderol Rp 23.000. Porsinya lengkap dengan nasi panas, lalapan melimpah (timun, kemangi, kol, dan daun selada), serta sambal legendaris tersebut. Lele digoreng dengan teknik khusus hingga kulitnya sangat renyah dan kering, sementara daging di dalamnya tetap lembut. Selain pecel lele, warung yang buka dari pukul 07.00 hingga 23.00 WIB ini juga menyediakan soto, rawon, bandeng, dan ayam goreng dengan kisaran harga Rp 23.000 - Rp 30.000.
"Kalau ramai, terutama weekend atau musim liburan, bisa terjual hingga 100 porsi sehari. Banyak yang sengaja menepi dari perjalanan jauh," tambah Farida.
Testimoni kesetiaan datang dari pelanggan seperti Oisatin. "Sudah langganan sejak dulu. Banyak yang jual pecel lele, tapi sambal di sini memang khas. Bisa request pedasnya, warnanya merah segar, dan rasanya benar-benar menyatu dengan lele goreng yang krispi. Harganya juga sangat terjangkau, sangat direkomendasikan," tuturnya.
Suasana warung yang lesehan dan sederhana justru menciptakan demokrasi rasa. Di sini, semua kalangan duduk berdampingan: mahasiswa, keluarga, pekerja, hingga pejabat daerah, menikmati kelezatan yang setara. Denting piring dan gemuruh obrolan menjadi soundtrack khas yang melengkapi pengalaman menyantap.
Pecel Lele Budi Luhur Jombang lebih dari sekadar tempat makan. Ia adalah penjaga memori rasa Jawa Timur yang otentik. Ketekunan menjaga resep turun-temurun, konsistensi rasa, dan harga yang bersahabat adalah resep abadi yang membuatnya bertahan sebagai legenda.
Setiap piring yang disajikan bukan hanya sajian, melainkan cerita panjang tentang warisan kuliner yang sederhana, namun mendalam dan melekat di hati.
"Setiap gigitan adalah cerita, dan setiap rasa adalah kenangan," tutup Farida dengan senyum, kembali melanjutkan aktivitasnya di balik tungku dan cobek sambal. (san)
What's Your Reaction?



