Madu Hutan: Keajaiban Alam yang Meningkatkan Kekebalan Tubuh di Tengah Cuaca Ekstrem
Cuaca panas ekstrem yang saat ini mendera sebagian wilayah Indonesia menjadi perhatian serius.
Jakarta, (afederasi.com) - Cuaca panas ekstrem yang saat ini mendera sebagian wilayah Indonesia menjadi perhatian serius. Selain dapat mengganggu kenyamanan kita, cuaca panas ekstrem juga berpotensi menurunkan kekebalan tubuh. Namun, ada kabar baik! Madu hutan ternyata menjadi pilihan yang menarik untuk menghadapi tantangan cuaca dan polusi udara yang mengintai.
Menurut Ketua Perkumpulan Dokter Pengembang Obat Tradisional dan Jamu Indonesia (PDPOTJI), dr. Inggrit Tania, madu hutan memiliki kandungan antioksidan yang mampu melawan radikal bebas lebih banyak dibandingkan madu ternak yang biasanya beredar di pasaran. Ini menjadikannya sebagai langkah pencegahan yang efektif untuk melindungi tubuh dari dampak buruk polusi atau cuaca panas. Bahkan jika sudah terkena dampaknya, madu hutan juga terbukti efektif dalam meredakan batuk.
Perbedaan mendasar antara madu hutan dan madu ternak terletak pada lebah yang menghasilkannya dan sumber nektarnya. Madu hutan diproduksi oleh lebah berjenis apis dorsata yang hidup di alam liar dan tidak bisa diternak. Nektar yang dihasilkan oleh lebah ini berasal dari tanaman liar yang tumbuh di hutan.
Menurut dr. Inggrit, kualitas nektar dari tanaman liar cenderung lebih baik daripada yang berasal dari tanaman hasil budidaya. Tanaman liar mengandung lebih banyak senyawa aktif dan enzim karena harus bertahan tanpa intervensi manusia. Hasilnya, madu yang dihasilkan lebih berkualitas.
Selain itu, madu hutan juga memiliki keunggulan khusus bagi anak-anak. Madu ini kaya akan enzim dan senyawa aktif yang dapat memberikan tambahan nutrisi, meningkatkan daya tahan tubuh, dan bahkan membantu mengobati batuk. Bahkan di Inggris, madu hutan direkomendasikan untuk anak-anak yang menderita batuk akibat Covid-19.
Beberapa perusahaan, seperti CV Bumi Wijaya Cilacap Jawa Tengah, menggabungkan madu hutan dengan tanaman herbal seperti curcuma, jahe merah, biji adas, dan kencur untuk menciptakan multivitamin yang menjaga kesehatan. Kombinasi ini telah terbukti memberikan manfaat yang baik bagi kesehatan.
Produk herbal berbahan utama madu hutan seperti Fluba Anaba, Gizidat, dan Freshmag mendapat sambutan baik di pasar. Penjualan Fluba Anaba, misalnya, mengalami peningkatan signifikan dalam dua tahun terakhir. Hingga Agustus 2023, penjualannya mencapai 10 ribu unit per bulan dengan pertumbuhan penjualan yang stabil sebesar 5 hingga 7 persen per bulan.
Ketika mengonsumsi madu, dr. Inggrit memberikan beberapa tips penting. Pastikan Anda memilih madu yang asli dan jangan berlebihan dalam mengonsumsinya. Tidak ada pantangan untuk mengonsumsi madu sebelum atau sesudah makan.
Terakhir, dr. Inggrit berharap literasi seputar madu di Indonesia dapat meningkat di masa depan. Saat ini, banyak orang yang belum memahami perbedaan antara madu hutan dan madu budidaya. Oleh karena itu, penting untuk membeli madu yang memiliki label resmi dari otoritas kesehatan, seperti Badan Pengelola Obat dan Makanan (BPOM) serta label SNI (Standar Nasional Indonesia) pada kemasannya. Hal ini akan memastikan madu yang Anda konsumsi adalah produk yang berkualitas dan aman.
Dengan pemahaman yang lebih baik tentang manfaat madu hutan dan cara memilih produk yang tepat, kita dapat menjaga kesehatan tubuh dan meningkatkan daya tahan tubuh kita di tengah tantangan cuaca ekstrem dan polusi udara. Semoga literasi seputar madu terus berkembang, dan masyarakat Indonesia semakin sadar akan manfaat alam yang luar biasa ini. (mg-3/mhd)
What's Your Reaction?



