Keren! Produk Olahan Kayu Kediri Tembus Pasar Alibaba dan Jadi Eksportir Furniture Speedboat di USA
Kisah inspiratif ini datang dari Sutaryanto (58) salah satu pengusaha kayu asal Desa Gedangsewu Kecamatan Pare Kabupaten Kediri.
Kediri, (afederasi.com) - Kisah inspiratif ini datang dari Sutaryanto (58) salah satu pengusaha kayu asal Desa Gedangsewu Kecamatan Pare Kabupaten Kediri.
Dimana produk olahan potongan kayu miliknya tembus di pasar dunia bahkan sekarang jadi eksportir rutin untuk Furniture speedboat di Amerika Serikat sejak tahun 2011 silam.
Ditemui di pabrik kayu milik Sutaryantio di Jalan Bandar Gedangsewu Wetan 2, melalui anaknya Rifki Ryan Mahendra (35) menuturkan jika bisnis ini telah mereka geluti bersama sejak tahun 2000 lalu.
Dalam usaha ini, ia memproduksi kayu olahan dari awal hingga bahan setengah jadi, kemudian disetorkan kepada suplayer yang telah siap untuk menjadikan bahan olahan di pasar seperti talenan, kursi dan meja.
"Sejak 2000 sudah mulai usaha kayu. Kami terima pesanan dari produk setengah jadi saja, lalu kami kirimkan," tuturnya, Sabtu (27/5/2023) siang.
Berjalannya waktu, untuk mengembangkan usaha kayu miliknya, kala itu tahun 2010 mencoba memasarkan hasil produknya ke laman platform jual beli online.
Tak tanggung-tanggung, toko online skala dunia bernama Alibaba.com dipilih untuk media promosinya. Untuk diketahui, Alibaba adalah toko online milik salah satu pengusaha terkaya di dunia bernama Jack Ma. Pria tersebut berasal dari Tiongkok China.
"Waktu itu memang kami posting, deskripsinya itu menawarkan produk olahan kayu dari jenis Mahoni dan kami perlihatkan foto-fotonya. Tahu-tahu ada yang inbox dari negara Amerika Serikat," terangnya.
Produk yang diterima pertama kali dari permintaan pasar global tersebut adalah furniture speedboat.
Dimana terdapat sekitar 170 item atau jenis pesanan dalam berbagai jenis ukuran kayu. Melihat respon positif itu, Ryan bersama sang ayah kemudian menjalin hubungan baik hingga menjadi eksportir sampai saat ini.
"Sekali kita kirim itu 1 kontainer dan dalam jangka waktu 1,5 sampai 2 bulan. Alhamdulillah untuk hasilnya juga banyak karena menyesuaikan kurs dolar," bebernya.
Usaha yang dijalani Ryan dan keluarganya sempat mengalami cobaan. Tahun 2020 kebakaran melanda pabrik olahan kayu miliknya.
Dari identifikasi tim kepolisian, penyebab terjadinya api berasal dari oven pengering kayu yang telah kering dan panas.Kerugian saat itu ditaksir mencapai Rp 1 miliar lebih.
Untuk bangkit dari usaha tersebut, Ryan dan keluarga terpaksa harus meminjam permodalan. Program Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari Bank BRI dipilih karena mudahnya akses dan prosedur dalam pencairan.
Sekitar Rp 300 juta dipinjam Ryan dan keluarga untuk modal kembali dan membayar 25 karyawan di pabriknya.
"Alhamdulillah prosesnya tidak rumit. Tahun 2021 itu juga pas pandemi, namun permintaan pasar masih stabil. Kami bangkit kembali, dan mulai usaha lagi," urainya.
Saat ini, ia sudah mempunyai dua pabrik dengan total 30 karyawan. Pabrik pertama untuk olahan kayu khusus produk yang di ekspor dan satu lainnya untuk produk olahan kayu setengah jadi atau bahan.
Dalam satu minggu pabrik olahan kayu ini bisa kirim ke mitra pabrik di Cirebon Jawa Barat dan Gresik Jawa Timur sebanyak 6 kubik berbagai jenis potongan kayu.
"Kalau ekspor ini masih menjalin hubungan kembali dengan buyer. Kemarin ada dari Saudi tapi masih nego-nego dulu," ungkapnya. (sya/dn)
What's Your Reaction?



