Diplomasi Meja Makan Jokowi: Strategi Sukses dalam Menyelesaikan Masalah
Jokowi, dengan strategi diplomasi meja makan, telah berhasil menyelesaikan konflik dan membangun hubungan dengan berbagai pihak dalam karir politiknya.
Jakarta, (afederasi.com) - Momen bersejarah bagi Joko Widodo pada tahun 2006, ketika ia masih menjadi Wali Kota Surakarta, Jawa Tengah, adalah ketika dia menghadapi tugas merelokasi sekitar 900 pedagang kaki lima (PKL) dari Kawasan Monumen 45 Banjarsari. Makan siang Jokowi, yang baru menjabat wali kota, bukanlah alat biasa, tetapi menjadi kunci dalam menyelesaikan konflik tersebut.
Tujuh tahun kemudian, Jokowi dan FX Hadi Rudyatmo, yang terpilih memimpin Surakarta, menggunakan pendekatan yang tak lazim. Mereka mengundang pedagang yang menolak relokasi untuk makan bersama dan berdiskusi di berbagai tempat, seperti rumah dinas wali kota, Loji Gandrung, dan Balai Kota Surakarta. Diplomasi meja makan ini membantu mencapai kesepakatan akhir.
Dalam proses relokasi, Jokowi mengadakan tidak kurang dari 54 kali pertemuan dengan 11 paguyuban PKL Taman Banjarsari untuk makan bersama. Hasilnya, Pemkot Solo dan para PKL berhasil menemukan solusi tanpa terjadi bentrokan fisik. Pawai kegembiraan dengan pedagang memeriahkan relokasi pada bulan Juli 2006.
Kemenangan kecil di Surakarta menjadi tonggak bagi Jokowi dalam memimpin ibu kota. Jurus andalan Jokowi, yaitu diplomasi meja makan, terbukti efektif dalam menyelesaikan berbagai permasalahan, termasuk kisruh penggusuran proyek Jalan Tol Jakarta Outer Ring Road West 2 (JORR W2) dan persoalan pengerukan di Waduk Pluit.
Saat menjadi presiden di periode pertamanya (2014-2019), Jokowi terus menggunakan strategi ini. Ia sering mengundang tokoh politik, masyarakat, mantan presiden, dan wakil presiden untuk makan siang di Istana Kepresidenan Jakarta. Bahkan, momen makan siang bersama rivalnya, Prabowo, di salah satu mal FX Senayan usai Pemilu 2019 menjadi sangat fenomenal dan menghangatkan suasana politik.
Pada tahun 2022, Jokowi menggunakan strategi makan siang lagi ketika mengundang para ketua umum partai politik koalisi pemerintah sebelum melantik menteri dan wakil menteri hasil perombakan Kabinet Indonesia Maju. Tahun 2023, taktik ini masih relevan saat Jokowi mengajak tiga calon presiden (capres) yang akan berkontestasi di Pilpres 2024, yaitu Prabowo Subianto, Ganjar Pranowo, dan Anies Baswedan, untuk makan siang di Istana Negara pada Senin (30/10/2023).
Selama jamuan makan siang istimewa ini, Prabowo, Ganjar, dan Anies duduk bersama di meja bundar dan menikmati berbagai hidangan lezat seperti soto, lontong, cumi-cumi, dan sayur. Setelah makan bersama, ketiganya bertemu dengan awak media untuk konferensi pers bersama. Momen ini dianggap sebagai diplomasi politik Jokowi menjelang Pemilu 2024, menunjukkan komitmen kebangsaan dan menjadi langkah untuk mengokohkan pondasi politik serta rekonsiliasi di masa depan.
Pengamat politik menilai bahwa strategi makan siang ini adalah cara Jokowi untuk menjaga suasana politik agar tidak terlalu panas dan mengurangi polarisasi di masyarakat. Dengan mengundang para capres, Jokowi berusaha menciptakan suasana akrab dan meminimalisir pembelahan serta benturan dalam proses kontestasi politik mendatang. Diplomasi meja makan Jokowi tetap menjadi senjata mujarabnya dalam menyelesaikan masalah yang sulit.(mg-3/jae)
What's Your Reaction?



