Dampak Cuaca Ekstrem, Nelayan di Situbondo Terpaksa Jualan Pisang Demi Bertahan Hidup
Situbondo, (afederasi.com) – Cuaca ekstrem yang melanda perairan Selat Madura dan pesisir Kabupaten Situbondo dalam beberapa pekan terakhir membuat aktivitas melaut lumpuh total. Tak ingin menyerah pada keadaan, para nelayan kini terpaksa "banting setir" mencari pekerjaan serabutan demi menghidupi keluarga.
Pantauan di lapangan menunjukkan pesisir Situbondo tampak sepi dari aktivitas bongkar muat ikan. Gelombang tinggi dan angin kencang membuat risiko melaut terlalu besar bagi keselamatan para nelayan.
Salah satu nelayan yang terpaksa alih profesi adalah Pak Gondrong, warga asal Kalbut, Situbondo. Pria yang biasanya bergulat dengan jaring ikan ini kini tampak sibuk menata tandan pisang di atas sepeda motornya.
Ia mendatangkan pisang dari Pulau Sapudi, Madura, untuk dijual kembali di wilayah Situbondo. Langkah ini diambil karena kondisi fisik yang tak lagi memungkinkannya bekerja sebagai buruh kasar.
"Sudah faktor usia, kalau dipaksa kerja bangunan saya tidak kuat. Jadi sementara beli pisang dari saudara di Madura, syukur bisa hutang dulu. Yang penting ada untung sedikit untuk nafkah keluarga," ungkap Pak Gondrong saat ditemui di sela aktivitasnya, Rabu (28/1/2026).
Menurutnya, cuaca buruk kali ini terasa lebih panjang dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. "Ini faktor alam, kami hanya bisa menunggu. Tapi kali ini cuaca buruknya berlangsung cukup lama," tambahnya.
Menyikapi kondisi ini, Kasatpolairud Polres Situbondo, AKP Gede Sukarmadiyasa, meminta para nelayan untuk tetap bersabar dan tidak memaksakan diri melaut.
"Keselamatan jiwa adalah yang utama. Kami secara intensif mengimbau nelayan untuk memantau prakiraan BMKG. Jika cuaca ekstrem, jangan melaut dulu," tegas AKP Gede.
Pihak kepolisian juga memberikan beberapa poin penekanan bagi masyarakat pesisir yakni pekerjaan alternatif dimana nelayan disarankan mencari penghasilan tambahan yang halal seperti berdagang atau bertani.
Namun, disaat cuaca mulai membaik nanti, nelayan diwajibkan membawa life jacket dan alat komunikasi. "Selama nelayan belum bisa melaut, kami menyalurkan bantuan sembako secara berkala untuk meringankan beban ekonomi nelayan yang terdampak," paparnya.
Selain masalah keselamatan, AKP Gede juga memberikan peringatan keras terkait regulasi BBM bersubsidi. Ia meminta para nelayan tidak meminjamkan barcode pembelian BBM kepada pihak lain meski kapal sedang tidak beroperasi.
"Hal ini penting untuk mencegah penyalahgunaan BBM bersubsidi yang bisa merugikan banyak pihak. Kami akan terus melakukan pembinaan dan pengawasan di lapangan," pungkasnya.(vya/dn)
What's Your Reaction?



