1.467 Penderita di Tulungagung Melawan Ganasnya Kanker, 80 Persen Pasien Datang Terlambat
Tulungagung, (afederasi.com) – Peringatan Hari Kanker Sedunia setiap tanggal 4 Februari semestinya menjadi alarm bagi masyarakat Kabupaten Tulungagung. Di balik seremonial tahunan ini, tersimpan tabulasi data kelam yang menunjukkan bahwa kanker bukan sekadar isu kesehatan, melainkan tantangan kemanusiaan yang mendesak.
Hingga saat ini, sebanyak 1.467 penderita kanker tercatat di Tulungagung sedang berjuang di tengah bayang-bayang keganasan sel kanker.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Tulungagung, Desi Lusiana Wardhani, membedah realitas masifnya sebaran penyakit ini. Dari total ribuan kasus, mayoritas pasien adalah perempuan dengan jenis kanker yang beragam.
Berdasarkan data Dinkes Tulungagung, profil penderita kanker terdiri dari kanker payudara sebanyak 984 pasien, kanker serviks sebanyak 278 pasien, kanker usus sebanyak 113 pasien dan kanker paru sebanyak 92 pasien.
"Jumlah pasien kanker yang cukup banyak di Kabupaten Tulungagung ini harus menjadi perhatian bersama," tegas Desi.
Ia menekankan bahwa dukungan lintas sektor sangat dibutuhkan mengingat sifat penyakit ini yang dikenal ganas dan mematikan.
Persoalan krusial di Tulungagung bukan hanya terletak pada kuantitas pasien, melainkan pada keterlambatan penanganan medis. Dr. Feri Nugroho, Sp.B, Subsp. Onk (K), seorang Spesialis Bedah Subspesialis Bedah Onkologi, mengungkapkan fakta memprihatinkan bahwa sekitar 80 persen pasien baru mencari pertolongan medis saat kanker sudah mencapai stadium 3 ke atas. Sebaliknya, pasien stadium awal yang datang tidak sampai 20 persen.
Feri mengidentifikasi tiga hambatan sosiologis utama yang menjadi pemicu keterlambatan ini. Pertama adanya persepsi takut terhadap prosedur pengobatan medis. Kedua lari ke pengobatan alternatif dimana masyarakat lebih memilih metode non-medis yang belum teruji hingga kondisi memburuk. Yang ketiga rendahnya edukasi pemahaman mengenai gejala dini membuat penyakit ini sering kali dianggap remeh.
"Fatalitas pasien sangat ditentukan oleh stadiumnya. Jika masih stadium 1 atau 2, angka harapan hidup bisa mencapai 5 tahun ke depan. Namun pada stadium lanjut, peluang itu jauh lebih kecil," pungkas dr. Feri.
Merespons krisis ini, RSUD dr. Iskak Tulungagung mengambil peran strategis sebagai rujukan utama layanan kemoterapi di wilayah Jawa Timur bagian selatan, melayani pasien dari Trenggalek, Blitar, hingga Kediri.
Direktur RSUD dr. Iskak, dr. Zuhrotul Aini, Sp.A, M.Kes., menegaskan komitmennya untuk membangun ekosistem layanan kanker yang komprehensif. "Cita-cita kami adalah menjadikan RSUD dr. Iskak sebagai pusat pelayanan onkologi terpadu," ujarnya.
Saat ini, rumah sakit terus memperkuat tim medis mulai dari bedah onkologi, bedah digestif, hingga persiapan dokter spesialis penyakit dalam ahli onkologi.
Sebagai langkah preventif, Dinkes Tulungagung menyediakan layanan Cek Kesehatan Gratis (CKG) di 32 puskesmas sebagai benteng pertama pencegahan.
Pesan yang ingin disampaikan jelas yaitu deteksi dini adalah kunci. Memerangi kanker tidak boleh menunggu hingga rasa sakit tak tertahankan, melainkan harus dimulai melalui pemeriksaan rutin saat tubuh masih terasa sehat.(dn)
What's Your Reaction?



