Wapres Gibran dan Diplomasi Jenang Ketan di Blitar Djadoel
Blitar, (afederasi.com) — Sorotan warga dan tamu undangan tertuju pada satu titik di Alun-Alun Kota Blitar. Bukan hanya karena hiruk-pikuk Bazar Blitar Djadoel 2025, melainkan karena kehadiran Wapres Gibran yang turun langsung menyapa pelaku UMKM dan menyusuri deretan stan kuliner tempo dulu dengan santai tapi penuh makna.
Dengan baju kasual dan senyum ramah, Wapres Gibran meluangkan waktu untuk mencicipi jenang ketan, sajian legendaris khas Blitar yang dimasak di atas tungku kayu. Bukan sekadar mencicip, Wapres Gibran bahkan turut mengaduk adonan dalam wajan besar, mengundang tepuk tangan pengunjung yang tak menyangka akan melihat Wakil Presiden Republik Indonesia bersentuhan langsung dengan warisan kuliner lokal.
Kunjungan Wapres Gibran ke Blitar Djadoel 2025 bukan sebatas seremoni. Di balik aktivitas mencicip jajanan, ia menitipkan pesan serius tentang pentingnya pelestarian budaya sekaligus penguatan sektor UMKM. “Ini bukan soal nostalgia semata,” ujar Wapres Gibran di hadapan media, Tapi tentang menjaga identitas dan memberi nilai tambah ekonomi, Rabu (18/6/2025).
Di hadapan Wali Kota Blitar, Syauqul Muhibbin, Wapres Gibran menekankan pentingnya digitalisasi dan strategi ekspor sebagai langkah konkret agar UMKM Blitar bisa menembus pasar luar negeri. Ia bahkan menyebut produk kendang lokal yang dinilainya layak ekspor ke Afrika sebagai contoh konkret pengembangan potensi daerah.
Menerima arahan tersebut, Wali Kota Blitar menyampaikan rasa terima kasih dan menyebut kehadiran Wapres Gibran sebagai momen penting. Ia berkomitmen untuk menindaklanjuti pesan Wapres Gibran dengan kolaborasi lebih luas bersama platform e-commerce nasional demi memperluas jangkauan produk lokal ke pasar global.
Namun Blitar Djadoel 2025 tak hanya memamerkan stan dagangan. Lebih dari itu, acara ini menjadi ruang dialektika budaya. Di antara denting keroncong dan parade busana jadul, pesan yang disampaikan Wapres Gibran tentang pentingnya merawat tradisi dengan pendekatan kekinian terasa menyatu dengan semangat kolektif warga Blitar.
Tentu, pesan kunci Wapres Gibran tak lepas dari konteks nasional: mendorong UMKM naik kelas, mendorong daerah menjadi pemain global, dan memperkuat daya saing melalui kolaborasi budaya dan teknologi. Bagi Blitar, pesan itu ditangkap dalam bentuk kesungguhan untuk mengemas sejarah dalam wajah yang lebih futuristik.
Maka dari itu, kehadiran Wapres Gibran di Blitar Djadoel bukan hanya menyemarakkan bazar, melainkan juga menyulut optimisme baru. Bahwa Blitar, dengan segala kekayaan budayanya, punya peluang besar menjadi etalase nasional yang ditampilkan dalam kancah global — dengan Wapres Gibran sebagai salah satu penggerak momentum tersebut. (adv/ang)
What's Your Reaction?



