Udara Jombang Tercemar Mikroplastik, Aktivitas Rumah Tangga dan Pembakaran Sampah Jadi Penyumbang Utama

19 Jan 2026 - 19:32
Udara Jombang Tercemar Mikroplastik, Aktivitas Rumah Tangga dan Pembakaran Sampah Jadi Penyumbang Utama
Kegiatan Riset Ecoton dan MA-MTs Al-Hikam ungkap pencemaran mikroplastik di udara Jombang, Senin (19/01/2026). (Foto: Istimewa)

Jombang, (afederasi.com) - Riset Ecoton dan MA-MTs Al-Hikam ungkap pencemaran mikroplastik di udara Jombang. Titik terparah di Perempatan Sengon dengan 58 partikel/jam. Serat tekstil dan pembakaran sampah plastik diduga sebagai sumber utama.

Riset terbaru mengungkap fakta mencengangkan: udara di Kabupaten Jombang telah tercemar mikroplastik. Temuan ini merupakan hasil pemantauan bersama Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton) dengan siswa-siswa MA dan MTs Al-Hikam Jombang di lima titik lokasi.

Jenis mikroplastik paling dominan yang ditemukan adalah fiber atau serat, yang berasal dari serat tekstil sintetis, limbah cucian, dan aktivitas domestik lainnya. Temuan ini memperbesar kekhawatiran akan dampak polusi plastik yang tidak hanya mencemari air dan tanah, tetapi juga udara yang dihirup langsung.

Pengambilan sampel udara dilakukan selama satu jam di tiap lokasi. Hasilnya menunjukkan variasi jumlah dan jenis mikroplastik yang signifikan:

Depan Polres Jombang: 13 partikel (semua fiber).

Depan Lapas Jombang: 14 partikel (10 fiber, 1 film, 3 fragmen).

Jatirejo, Cukir: 16 partikel (13 fiber, 2 film, 1 fragmen).

Kedai Sufi Desa Sengon: 4 partikel (jenis film/filamen).

Perempatan Desa Sengon: 58 partikel (11 fiber, 6 film, 41 fragmen) – menjadi titik tertinggi.

Tingginya jumlah fragmen di lokasi lalu lintas padat seperti Perempatan Sengon mengindikasikan kontribusi dari abrasi ban kendaraan, debu jalanan, dan kemasan plastik sekali pakai.

Peneliti Ecoton, Rafika Aprlianti, menjelaskan bahwa dominasi fiber menjadi penanda kuat pengaruh aktivitas rumah tangga. “Fiber paling banyak berasal dari aktivitas harian seperti mencuci pakaian.

 Serat sintetis yang lepas akan masuk ke saluran air, sungai, dan kini juga terdispersi di udara,” ungkapnya kepada afederasi.com, Senin (19/01/2026).

Pendiri Ecoton, Prigi Arisandi, menegaskan temuan ini memperbesar risiko kesehatan. “Mikroplastik tidak hanya mencemari air, tetapi juga terhirup langsung oleh manusia. Ini menjadi bagian dari polusi udara yang berisiko terhadap sistem pernapasan,” tegas Prigi.

Sementara itu, Peneliti Senior Ecoton, Amiruddin Muttaqin, menyoroti lemahnya pengelolaan sampah. “Data Ecoton menunjukkan 55,5% mikroplastik di udara akibat aktivitas pembakaran sampah. Selama pengolahan limbah tidak dibenahi dan konsumsi plastik sekali pakai terus dibiarkan, polusi ini akan terus ada,” jelas Amiruddin.

Paparan hasil temuan ini disampaikan dalam kegiatan edukasi lingkungan di MA dan MTs Al-Hikam Jatirejo, Diwek. Kepala MA Al-Hikam, Matuhah Mustiqowati, menyambut baik kegiatan yang melibatkan siswa secara langsung ini.

“Kami ingin siswa sadar bahwa aktivitas sehari-hari, seperti penggunaan plastik sekali pakai, berdampak langsung pada lingkungan dan kesehatan. Kesadaran ini harus ditanamkan sejak dini,” ujarnya.

Berdasarkan temuan ini, tim peneliti dari Ecoton dan MA-MTs Al-Hikam memberikan rekomendasi kepada pemerintah daerah, antara lain:

1. Memperketat pengelolaan sampah domestik.

2.Mendorong pemilahan sampah mandiri dari sumber (rumah/ sekolah).

3.Memberikan sanksi tegas terhadap praktik pembakaran sampah, terutama plastik.

4.Mengendalikan penggunaan plastik sekali pakai melalui peraturan.

5.Memasukkan isu pencemaran mikroplastik ke dalam kebijakan pengendalian polusi udara dan perlindungan kesehatan masyarakat.

Temuan ini menjadi alarm serius bahwa pencemaran plastik telah mencapai tingkat yang mengkhawatirkan dan membutuhkan tindakan segera dari semua pihak, mulai dari individu, komunitas, hingga pemerintah.(san)

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow