Survei Elektabilitas Prabowo-Gibran vs. Ganjar-Mahfud: Persaingan Ketat Pasca Putusan MK
Dalam survei terbaru oleh Charta Politika Indonesia, elektabilitas pasangan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka bersaing ketat dengan pasangan Ganjar Pranowo-Mahfud MD.
Jakarta, (afederasi.com) - Survei terbaru yang dirilis oleh Charta Politika Indonesia dengan judul 'Peta Elektoral Pasca Putusan MK dan Pendaftaran Capres-Cawapres' mengungkapkan bahwa pasangan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka bersaing ketat dengan pasangan Ganjar Pranowo-Mahfud MD dalam simulasi head to head. Menurut Direktur Eksekutif Charta Politika, Yunarto Wijaya, pasangan Prabowo-Gibran memiliki elektabilitas sebesar 43,5 persen, sementara Ganjar-Mahfud memperoleh 40,6 persen. Yunarto menjelaskan selisih elektabilitas keduanya hanya 2,9 persen, dan ini menjadi fokus perhatian dalam perjalanan politik menjelang pemilihan presiden.
Dalam komentarnya, Yunarto Wijaya menyatakan, "Prabowo-Gibran dengan Ganjar-Mahfud ada di angka 43,5 persen melawan 40,6 persen. Jadi selisih 2,9 persen," seperti yang dilansir dari Suara.com media partner afederasi.com. Hal ini menunjukkan bahwa persaingan antara Prabowo-Gibran dan Ganjar-Mahfud semakin ketat.
Namun, Yunarto juga mencatat bahwa elektabilitas pasangan Prabowo-Gibran mengalami penurunan yang signifikan. Dia menyarankan bahwa Ganjar-Mahfud memiliki peluang untuk menyalip Prabowo-Gibran dalam kontestasi ini. Penurunan elektabilitas Prabowo-Gibran terjadi setelah putusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang memungkinkan Gibran untuk mendaftar ke Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI.
"Ada kecenderungan di tiga nama tidak banyak berubah, tapi penurunan cukup tajam terhadap Pak Prabowo itu terjadi ketika simulasi dua nama," ungkap Yunarto, menunjukkan penurunan yang signifikan setelah putusan MK.
Yunarto juga mencatat bahwa survei sebelumnya pada bulan Oktober 2023 menunjukkan elektabilitas Prabowo-Gibran sebesar 46 persen, namun terjadi penurunan sekitar 2,5 persen pada survei terbaru yang dilakukan pada 26-31 Oktober 2023. Menurutnya, isu politik dinasti dan penggabungan Prabowo dengan anaknya tampaknya telah berdampak negatif pada elektabilitas Prabowo.
Di sisi lain, elektabilitas pasangan Ganjar-Mahfud mengalami peningkatan. Pada survei sebelumnya, elektabilitas mereka hanya sebesar 39,5 persen, namun meningkat menjadi 40,6 persen pada survei terbaru yang dilakukan pada periode yang sama. Yunarto menekankan bahwa isu politik dinasti dan peran Mahkamah Keluarga menjadi faktor penting dalam perubahan tren elektoral.
Survei ini dilakukan secara nasional pada periode 26 hingga 31 Oktober dan melibatkan 2.400 responden yang tersebar secara proporsional di 38 provinsi. Metode yang digunakan adalah multistage random sampling, dengan margin of error sekitar 2 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen. Dengan hasil survei ini, perjalanan politik menjelang pemilihan presiden semakin menarik dan menjadi perbincangan hangat di tengah masyarakat.(mg-3/jae)
What's Your Reaction?



