Ridwan Kamil: Kekuasaan adalah Candu, 'Legowo' Sulit Diterapkan, dan Anak Muda Harus Mumpuni di Dunia Politik
Ridwan Kamil, mantan Gubernur Jawa Barat, telah mengemukakan pandangannya mengenai kekuasaan, yang menurutnya memiliki sifat candu.
Jakarta, (afederasi.com) - Ridwan Kamil, mantan Gubernur Jawa Barat, telah mengemukakan pandangannya mengenai kekuasaan, yang menurutnya memiliki sifat candu. Pendapat ini ia sampaikan ketika merespons komentar pelawak Denny Chandra tentang dinasti politik. "Karena kekuasaan itu sifatnya addicted (menimbulkan kecanduan)," kata Ridwan Kamil seperti yang dilansir dari Suara.com media partner afederasi.com, Selasa (24/10/2023).
Dalam pembicaraannya, Ridwan Kamil juga menyoroti konsep "legowo," yang seringkali mudah diucapkan tetapi sulit diterapkan dalam realitas politik. Pandangannya ini menggarisbawahi kompleksitas kekuasaan dan tanggung jawab yang melekat padanya.
Selain itu, Ridwan Kamil membahas keterlibatan anak muda dalam dunia politik. Baginya, tidak ada masalah jika generasi muda ingin terlibat dalam kepemimpinan. Ia mencatat bahwa Bung Karno, pendiri Indonesia, adalah contoh ketua partai pada usia muda, dan ini bukan masalah besar. Namun, menurutnya, pemilihan anak muda untuk posisi tersebut harus didasarkan pada kemampuan mereka, bukan sekadar latar belakang orang tua mereka.
"Yang terpenting adalah kemampuan generasi muda. Jangan hanya dipilih karena usianya muda atau hubungan keluarga, yang benar adalah kita memilih generasi muda yang memiliki kapasitas yang mumpuni," tegas Ridwan Kamil.
Ridwan Kamil, yang dikenal dengan sebutan Kang Emil, juga merupakan salah satu tokoh yang sering disebut sebagai calon wakil presiden (cawapres) potensial. Namanya selalu muncul di puncak survei sebagai kandidat yang diinginkan oleh masyarakat.
Meskipun sebelumnya ia telah purnatugas sebagai gubernur, Ridwan Kamil memutuskan untuk bergabung dengan Partai Golkar. Publik menduga bahwa partai tersebut akan mendorongnya sebagai cawapres. Namun, rencana tersebut tak bisa terealisasi karena Partai Golkar memilih untuk mendukung Ketua Umum mereka, Airlangga Hartarto, sebagai calon presiden dalam Pilpres 2024.
Dalam urusan pilpres, Partai Golkar memutuskan bergabung dengan Koalisi Indonesia Maju untuk mendukung calon presiden Prabowo Subianto. Ironisnya, Partai Golkar justru memutuskan untuk mengusung Gibran Rakabuming Raka, kader PDIP, sebagai cawapres Prabowo, bukan Ridwan Kamil yang merupakan salah satu figur yang telah lama diharapkan oleh masyarakat. (mg-3/jae)
What's Your Reaction?



