Polisi Rasa Ustadz, Anggota Polres Bondowoso Ini Pernah Syahadatkan PSK di Meja Penyidikan
Contohnya adalah Bripka Mustaqim Romli, Kepala Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (Kanit PPA) Satreskrim Polres Bondowoso.
Bondowoso, (Afederasi.com) - Pamor polisi di mata masyarakat lazimnya tampak sebatas sosok personel tegas dan terlatih yang hanya mengurusi penegakan hukum saja.
Namun ada sebagian anggota polisi yang berhasil di sisi preventif guna menekan angka kriminalitas berbasis edukasi menarik.
Contohnya adalah Bripka Mustaqim Romli, Kepala Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (Kanit PPA) Satreskrim Polres Bondowoso.
Selain memiliki tugas menangani masalah hukum di reserse Polres Bondowoso, ternyata Mustaqim juga dikenal sebagai ustadz.
Tak jarang di sela tugasnya diwarnai penyadaran bagi pelaku kriminal sebab pemberian asupan spiritual, khususnya bagi mereka yang beragama Islam.
"Pada akhir tahun 2021 lalu, saya malah sempat mengislamkan seorang PSK di meja penyidikan Polres Bondowoso setelah dia tertangkap," terang Bripka Mustaqim kepada Afederasi, Minggu (3/9/2023).
Mustaqim bercerita, saat itu Satreskrim Polres Bondowoso menjaring Pekerja Seks Komersial (PSK) asal Kabupaten Situbondo yang 'buka praktik' di Kabupaten Bondowoso.
"PSK ini awalnya beragama Islam. Dia lalu menikah dengan orang Hindu di Bali dan mengikuti keyakinan suaminya. Setelah cerai, dia bekerja sebagai PSK," tutur pria kelahiran Jember, 9 Juli 1988 itu.
Kemudian, Bripka Mustaqim Romli menasehati pelaku hingga akhirnya terjadi pengislaman di meja penyidikan Polres Bondowoso.
"Mungkin karena hatinya tersentuh, yang bersangkutan meminta agar bisa memeluk Islam lagi. Jadi saya menuntunnya membaca Syahadat di meja penyidikan waktu itu," ucap polisi yang mengawali karir di usia 19 tahun pada tahun 2007 tersebut.
Tidak hanya kepada PSK, tausiyah juga diberikan kepada pelaku kejahatan lain, baik kasus pencurian, perampokan hingga pencabulan selama ia berlalu-lalang tugas di Reskrim.
"Ada 9 residivis setelah dia keluar penjara, bertaubat. Justru mereka mengundang saya menjadi penceramah di lingkungan rumahnya," akunya.
Bripka Mustaqim Romli bukanlah pendakwah dadakan tanpa nasab keilmuan yang jelas.
"Dulu saya pernah mondok di Ponpes Tambak Beras Jombang. Saat itu berguru ke Kiai Jamaluddin (almarhum)," ucapnya.
Selain itu, bapak dari Bripka Mustaqim Romli juga merupakan ulama di wilayahnya yakni Ustadz Ahmad Thaif.
"Beliau takdzim kepada Kiai Hamid Pasuruan dan Kiai As'ad Situbondo," sebut warga Perumahan Grand City, Kelurahan Nangkaan, Kecamatan/Kabupaten Bondowoso tersebut.
Ustadz Ahmad Thaif pernah berpesan kepada anaknya itu agar senantiasa mendakwahkan Islam dimanapun ia bekerja.
"Pesan bapak saya, sampaikanlah kebaikan walaupun hanya 1 ayat kepada siapapun yang membutuhkan. Jadi, dakwah itu merupakan kewajiban apapun profesinya," paparnya.
Untuk urusan dakwah, anggota Polres Bondowoso Bripka Mustaqim Romli mengawali dari sekedar memimpin acara sholawatan di lingkungan warga sejak tahun 2009 lalu.
"Lalu terus dipercaya sebagai penceramah di beberapa acara keagamaan, terutama usai menikah di tahun 2017 lalu sampai sekarang," ulasnya.
Dari 23 kecamatan di Kabupaten Bondowoso, dia sudah pernah berdakwah setidaknya di 20 kecamatan.
"Bahkan sempat mengisi materi di acara Isra' mikraj di Desa Suger Kidul, Kecamatan Jelbuk, Kabupaten Jember, di kediaman Lora Salim (almarhum), cucu Kiai Sholeh," beber sarjana Psikologi di Unmuh Jember tersebut.
Menurutnya, Kabupaten Bondowoso merupakan salah satu daerah yang dikenal sebagai Kota Santri di Jawa Timur.
"Harapannya ulama dan umara' bersatu membangun daerah dan manusianya dengan edukasi yang menyejukkan," kata Takmir Masjid Al Fajri ini.
Katanya, sebagai santri sudah seharusnya dakwah dimanapun tempat ia bekerja, walaupun nanti Mustaqim bakal berpindahtugas di satuan lainnya.
"Sebagai seorang santri, maka tentu harus menebar kebaikan di dunia untuk akhirat. Santri itu rebahan masuk surga, bergerak mengubah dunia," seloroh Mustaqim. (den)
What's Your Reaction?



