Petani Tembakau Jombang Targetkan 6.000 Hektare dengan Varietas Unggul
Jombang, (afederasi.com) – Memasuki pertengahan tahun 2026, para petani tembakau di wilayah utara Sungai Brantas, Kabupaten Jombang, mulai bergerak aktif. Mereka tengah memasuki fase krusial persiapan lahan dan pembibitan untuk menyambut musim tanam yang diperkirakan berlangsung pada akhir Mei mendatang.
Lima kecamatan sentra produksi tembakau di utara Brantas, yaitu Ploso, Kabuh, Kudu, Ngusikan, dan Plandaan, kini menjadi pusat aktivitas persiapan. Para petani optimis target luas tanam tahun ini mampu melampaui capaian tahun sebelumnya.
Wakil Ketua Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Jombang, Tek Diwanto, menyatakan bahwa seluruh petani di lima kecamatan tersebut saat ini fokus pada dua kegiatan utama: menyiapkan lahan dan merawat bibit.
"Kalau sekarang kami masih persiapan. Semua lima kecamatan di utara Brantas seperti Ploso, Kabuh, Kudu, Ngusikan dan Plandaan sedang persiapan. Sembari menunggu tanah siap, kami menyiapkan bibitnya," terangnya kepada awak media, Rabu (06/05/2026).
Ia menjelaskan, varietas tembakau yang disiapkan petani cukup beragam guna mengantisipasi kebutuhan pasar. Di lahannya sendiri, Tek Diwanto membudidayakan tiga jenis unggulan.
"Di saya ini ada tiga jenis, jinten pakpie 1, jinten pakpie 2 dan manilo," ujar petani asal Desa Bendungan, Kecamatan Kudu tersebut.
Berdasarkan pengamatan di lapangan, usia bibit tembakau saat ini berkisar antara 15 hingga 20 hari. Menurut Tek Diwanto, bibit tembakau baru akan siap dipindahkan ke lahan tanam (pindah tanam) setelah berumur ideal, yakni sekitar 40 hingga 50 hari.
"Usia bibit sekarang di angka 15-20 hari, nanti baru siap ditanam mungkin sebulan lagi. Sehingga kalau kita hitung, mulai tanam mungkin baru di pertengahan Mei 2026 dan yang serentak nanti di akhir Mei 2026," jelasnya secara rinci.
Memasuki musim tanam 2026, para petani di utara Brantas Jombang menargetkan luasan tanam yang cukup ambisius. Tek Diwanto mengungkapkan bahwa target tahun ini tidak hanya dipertahankan, tetapi berpotensi mengalami peningkatan.
"Untuk target tanam tetap di angka 6.000 hektare lebih, bahkan mungkin bisa lebih lagi dari tahun lalu karena melihat serapan bibit per hari ini," imbuhnya.
Salah satu faktor eksternal yang sangat mempengaruhi kualitas daun tembakau adalah kondisi cuaca. Berdasarkan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), tahun 2026 diprediksi akan terjadi kemarau panjang.
Alih-alih khawatir, Tek Diwanto justru menyambut positif prediksi tersebut. Menurutnya, kemarau panjang seringkali berdampak positif terhadap kualitas hasil panen tembakau.
"Kalau berkaca dari prakiraan BMKG tahun ini kan kemarau panjang, jadi kami berharap hasilnya bisa lebih baik dari tahun kemarin," pungkasnya.
Dengan dimulainya persiapan lebih awal dan target luasan yang meningkat, sektor pertanian tembakau di Jombang utara optimistis menjadi penopang ekonomi daerah sepanjang tahun 2026. (san).
What's Your Reaction?

