Musim Tanam 2026, Petani Jombang Dihantui Penyakit Kresek
Jombang, (afederasi.com) – Petani padi di Kecamatan Plandaan, Kabupaten Jombang, berada dalam status siaga tinggi. Penyakit bakteri hawar daun (Xanthomonas oryzae pv. oryzae) atau yang lebih dikenal sebagai penyakit kresek, dilaporkan mulai menyerang areal persawahan pada Musim Tanam (MT) Padi MP1 2026.
Berdasarkan data lapangan, luas serangan penyakit kresek di wilayah tersebut telah mencapai 25-30% dari total luas pertanaman padi seluas 2.174,73 hektare (Ha). Serangan banyak ditemukan pada tanaman padi varietas galur (belum bersertifikat) yang masih banyak ditanam petani setempat.
Koordinator Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Kecamatan Plandaan, Yus Ardi Baskoro, mengkonfirmasi temuan ini. "Rata-rata tanaman padi yang terserang adalah tanaman padi yang masih galur," jelasnya kepada Afederasi.com, Sabtu (31/01/2026).
Yus Ardi menjelaskan, serangan dipicu oleh kondisi cuaca mendung dan lembab dalam beberapa hari terakhir. Selain itu, faktor kesalahan teknis budidaya juga memperparah situasi.
Heri Santoso, salah satu petani di Plandaan, mengaku mulai menemui serangan pada lahannya. "Kami menyadari karena terlalu banyak penggunaan pupuk dengan kandungan nitrogen tinggi, sehingga tanaman menjadi rentan. Jarak tanam yang terlalu rapat juga jadi faktor," ungkap Heri.
Serangan pada fase vegetatif hingga mendekati masa panen, terutama pada daun bendera, sangat kritis. Daun ini berperan vital dalam penyerapan pupuk dan proses fotosintesis. "Jika terserang, produksi pasti akan menurun," tegas Yus Ardi.
Upaya Pengendalian dan Rekomendasi PPL
Tim Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) dan PPL telah bergerak melakukan penyuluhan intensif kepada petani terkait pencegahan dan pengendalian penyakit kresek.
"Upaya kami adalah memberi penyuluhan cara pencegahan dan memberikan pemahaman penggunaan varietas padi yang tahan," kata Yus Ardi.
Berikut rekomendasi utama dari penyuluh pertanian untuk mengatasi wabah kresek di Jombang:
1. Penggunaan Varietas Tahan dan Bersertifikat: Mengganti varietas galur dengan varietas unggul bersertifikat yang lebih tahan terhadap penyakit kresek dan sesuai dengan agroekosistem setempat.
2. Aplikasi Fungisida/Bakterisida Intensif: Untuk tanaman yang sudah terlanjur terserang, penyemprotan dengan bakterisida yang tepat harus dilakukan setidaknya 2 kali dalam seminggu secara rutin.
3. Perbaikan Pola Pemupukan: Mengurangi dosis pupuk nitrogen tinggi dan menyeimbangkannya dengan pupuk kalium untuk meningkatkan ketahanan tanaman.
4. Pengaturan Jarak Tanam: Menerapkan jarak tanam yang tidak terlalu rapat untuk mengurangi kelembaban mikro di sekitar kanopi tanaman.
Heri Santoso menyampaikan kekhawatiran sekaligus harapannya. "Petani takut produktivitas padinya menurun. Harapan kami ada gerakan penyemprotan massal untuk mencegah penyebaran lebih luas," pungkasnya.
Yus Ardi menambahkan, meski Dinas Pertanian kerap memberikan bantuan obat, namun cakupannya terbatas. "Biasanya bantuan obat tidak bisa 100% mencakup semua petani yang tanamannya terserang," ungkapnya.
Kondisi ini mengingatkan pentingnya pengendalian hama penyakit terpadu berbasis pencegahan. Penggunaan benih sehat, pola tanam yang baik, dan pemantauan rutin menjadi kunci utama memutus siklus penyakit kresek yang kerap menimbulkan kerugian besar bagi petani padi di Jombang.(san)
.
What's Your Reaction?



