Sosok Anom Antono Kabid Kebudayaan Jombang yang Mengabdi, Merawat Warisan Budaya dari Dalang ke Birokrasi
Jombang, (afederasi.com) - Di balik gemerlap panggung pertunjukan wayang kulit, ada sosok yang sejak kecil telah menghirup aroma dupa dan alunan gamelan. Anom Antono, S.Sn, lahir dan tumbuh dalam tradisi yang kental akan seni pedalangan. Kini, pria kelahiran Desa Gabusbanaran, Kecamatan Tembelang, Jombang, 16 November 1973 itu tak hanya menjadi dalang handal, tetapi juga mengabdikan diri sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) di bidang kebudayaan. Baginya, wayang bukan sekadar hiburan, melainkan napas kehidupan yang harus dijaga kelestariannya.
Cinta Anom pada dunia pewayangan bukanlah kebetulan. Ia mewarisi bakat mendalang dari ayahnya, Hadi Carito, seorang dalang kondang di zamannya. Sejak kecil, Anom telah akrab dengan panggung pentas. Ia terbiasa mengikuti ayahnya dari satu pementasan ke pementasan lainnya. Bahkan, saat jadwal pertunjukan sang ayah padat merayap, Anom kecil sering dipercaya untuk menggantikannya di depan publik .
"Sejak lulus SMK, saya sering diundang warga untuk ndalang," kenang pria yang kini menjabat Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Jombang saat menceritakan pengalaman hidupnya kepada media afederasi, Senin (29/06/2026)
Meski memiliki bakat besar, perjalanan pendidikan Anom tidak mulus. Setelah menamatkan pendidikan dasar di SDN Gabusbanaran 1 dan SMPN 1 Ploso, sang ayah mengarahkannya untuk melanjutkan studi di SMKI Surakarta (kini SMKN 8 Surakarta) jurusan Seni Pedalangan. Keputusan itu diambil karena Anom menyadari dirinya kurang berbakat di bidang eksakta.
"Saya tidak pandai kimia dan matematika, sehingga bapak menyekolahkan saya di jurusan seni pedalangan," ungkapnya sambil berbincang santai menikmati obrolan panjang lebar mengenai latar belakang perjalanan karirnya.
Anom menceritakan, setelah lulus sekolah menengah, kondisi ekonomi keluarga memaksanya menunda kuliah selama setahun. Namun masa itu tidak disia-siakan. Anom justru semakin aktif memenuhi undangan masyarakat untuk menjadi dalang dalam berbagai acara, mulai dari hajatan khitanan, resepsi pernikahan, hingga sedekah desa .
Honor dari setiap pementasan kemudian menjadi bekal berharga untuk mewujudkan cita-citanya melanjutkan pendidikan di Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Surakarta, yang kini berubah nama menjadi Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Selama masa kuliah, Anom bertekad mandiri. Ia membiayai pendidikannya sepenuhnya dari hasil mendalang hingga akhirnya berhasil lulus pada tahun 2001 .
Anom mengatakan setelah kembali ke kampung halaman, ia memulai karier sebagai tenaga honorer di Dinas Pariwisata, Budaya, Pemuda dan Olahraga pada tahun 2003. Dua tahun kemudian, ia berhasil lolos seleksi menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Pengalaman panjangnya sebagai seniman sekaligus birokrat membuatnya dipercaya menangani bidang sejarah dan nilai budaya, hingga akhirnya dipercaya menjabat sebagai Kepala Bidang Kebudayaan Disdikbud Jombang.
Dalam setiap langkahnya, Anom selalu membawa misi pelestarian budaya. Ia dikenal getol memperjuangkan pengakuan budaya lokal agar memperoleh status Warisan Budaya Tak Benda Indonesia dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi .
"Itu kami lakukan agar di kemudian hari tidak diklaim menjadi warisan budaya orang lain," tegasnya dengan penuh semangat .
Perjuangannya tidak sia-sia. Pada tahun 2020, Tradisi Riyaya Unduh-unduh GKJW Mojowarno berhasil ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia. Prestasi itu kemudian disusul dengan pengakuan Tari Remo Boletan pada tahun 2024 .
Tak hanya fokus pada upaya legalitas budaya, Anom juga berkomitmen memastikan seni tradisi tetap hidup di tengah masyarakat. Salah satu program unggulannya adalah "Wayang Masuk Sekolah." Melalui program ini, ia memperkenalkan wayang kepada siswa SD dan SMP sebagai media pendidikan karakter sekaligus wahana regenerasi dalang, pengrawit (musisi gamelan), dan pelaku seni tradisi lainnya .
"Generasi muda harus mengenal dan mencintai budayanya sendiri. Kalau bukan kita, siapa lagi yang akan melestarikannya?" ujarnya penuh haru.
Hingga kini, Anom Antono terus mengabdikan diri, menjembatani dua dunia: sebagai birokrat yang mengatur kebijakan, dan sebagai seniman yang merawat warisan nenek moyang. Baginya, wayang bukanlah sekadar pertunjukan, melainkan cerminan nilai-nilai luhur yang harus terus diwariskan dari generasi ke generasi. (san)
What's Your Reaction?

