Banjir Luapan Bengawan Njero di Lamongan Rendam 11 Sekolah dan 14 Masjid
Lamongan, (afederasi.com) – Intensitas hujan yang tinggi menyebabkan luapan Sungai Bengawan Njero merendam sejumlah wilayah di Kabupaten Lamongan. Tak hanya pemukiman, banjir juga mulai berdampak pada fasilitas pendidikan dan rumah ibadah di 5 kecamatan terdampak.
Plt Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lamongan, Moch. Na’im, mengungkapkan bahwa setidaknya ada 11 lembaga pendidikan yang kini terendam air. Sekolah-sekolah tersebut tersebar mulai dari tingkat PAUD hingga SMA.
"Data kami menunjukkan ada sekitar 11 lembaga pendidikan yang terdampak, mulai dari TK/PAUD, SD, SMP, hingga SMA. Sekolah ini tersebar di 5 kecamatan dan mencakup 27 desa," ujar Moch. Na’im saat memberikan keterangan di halaman kantor Pemkab Lamongan, Senin (12/01/2026) pagi.
Selain sekolah, fasilitas umum lainnya seperti tempat ibadah juga tidak luput dari genangan air. Berdasarkan pendataan sementara, terdapat sekitar 14 masjid yang ikut terendam.
"Ada 14 masjid terendam banjir di 5 kecamatan akibat luapan Bengawan jero," ungkap Na'im.
Guna memastikan proses belajar mengajar tetap berjalan, BPBD Lamongan telah berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan. Salah satu langkah konkret yang diambil adalah penyediaan armada transportasi air bagi para siswa.
"Terkait penanganan sekolah, kami terus berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan. Kami juga sudah mengirimkan bantuan perahu yang bisa digunakan untuk antar-jemput siswa jika diperlukan," tambahnya.
Kecamatan Kalitengah, khususnya Desa Bojoasri, menjadi salah satu titik dengan kondisi banjir yang cukup dalam. Na’im menjelaskan bahwa debit air yang masih tinggi serta belum dibukanya Pintu Air Kuro menjadi faktor penghambat surutnya air. Sebagai bentuk kepedulian, Pemerintah Kabupaten Lamongan mulai menyalurkan bantuan logistik dan layanan kesehatan bagi warga terdampak.
"Untuk wilayah Bojoasri, kami tetap pantau karena debit air masih tinggi. Kami bantu penyaluran sembako serta layanan kesehatan gratis bagi warga. Beberapa lembaga juga sudah mulai memberikan bantuan ke desa-desa terdampak," jelasnya.
Mengutip data dari BMKG Juanda, Na’im menyebutkan adanya potensi penurunan curah hujan pada dasarian kedua bulan Januari (tanggal 11-20). Hal ini diharapkan dapat membantu penurunan debit air di kawasan Bengawan Njero.
"Berdasarkan perkiraan BMKG, pada dasarian kedua ini curah hujan diprediksi sedikit menurun dibandingkan dasarian pertama (1-10 Januari) kemarin. Semoga kondisi segera membaik," tutupnya. (yan)
What's Your Reaction?


