PMII Pacitan Soroti Kasus Diare Massal di Sudimoro, Minta Dinkes Evaluasi Menyeluruh
Pacitan, (afederasi.com) – Kasus diare massal yang terjadi di Kecamatan Sudimoro mendapat sorotan dari Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Pacitan.
PMII menilai kejadian tersebut menunjukkan masih adanya persoalan kesehatan lingkungan yang perlu mendapat perhatian serius.
Mandataris Ketua Umum PC PMII Pacitan, Sunardi, mengatakan lonjakan keluhan diare yang dialami ratusan warga tidak bisa dianggap sebagai kejadian biasa.
“Jumlahnya cukup banyak dan terjadi dalam waktu berdekatan. Ini perlu dilihat lebih jauh penyebabnya,” ujarnya, Jumat (23/1/2026).
Berdasarkan data yang disampaikan Dinas Kesehatan Pacitan, sekitar 270 warga di Sudimoro mengalami keluhan mual, sakit perut, hingga diare sejak Sabtu (17/1/2026).
Angka tersebut merupakan hasil pendataan keluhan masyarakat, bukan seluruhnya pasien yang menjalani pengobatan di fasilitas kesehatan.
Sunardi menilai, meski seluruh kasus telah ditangani dan tidak ada yang sampai dirawat inap, langkah pencegahan tetap harus diperkuat.
Terlebih kelompok yang banyak terdampak adalah balita dan anak usia sekolah dasar.
“Kalau anak-anak yang banyak terkena, berarti lingkungan dan sanitasi harus benar-benar diperhatikan,” katanya.
PMII juga menyoroti masih ditunggunya hasil uji laboratorium untuk mengetahui penyebab pasti kejadian tersebut.
Menurut mereka, hasil pemeriksaan perlu disampaikan secara terbuka agar masyarakat tidak berspekulasi.
“Kami berharap hasil uji lab nanti bisa dijelaskan ke publik supaya jelas sumber masalahnya dari mana,” ucap Sunardi.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Pacitan, dr. Daru Mustikoaji, menyampaikan penanganan di lapangan telah dilakukan sejak awal munculnya keluhan.
Tenaga kesehatan diterjunkan untuk memberikan pengobatan standar diare, termasuk oralit dan zinc.
“Tidak ada yang sampai parah. Semua kasus bisa ditangani di lapangan,” ujar dr. Daru dalam konfirmasi media Ketik.
Ia menjelaskan, sampel telah dikirim ke Surabaya untuk pemeriksaan mikrobiologi.
Dugaan sementara masih berkisar pada faktor air dan makanan, namun belum bisa disimpulkan.
PMII meminta agar kejadian ini menjadi bahan evaluasi bersama.
Mereka menilai pencegahan penyakit berbasis lingkungan perlu dilakukan secara berkelanjutan, tidak hanya saat kasus muncul.
“Kasus ini jangan sampai berhenti begitu saja. Harus ada langkah lanjutan supaya tidak terulang,” pungkas Sunardi.(feri)
What's Your Reaction?



