Kopi Tradisional Lereng Anjasmoro Jombang, Kisah Perjuangan dan Citarasa Warisan Leluhur

18 Jan 2026 - 22:26
Kopi Tradisional Lereng Anjasmoro Jombang, Kisah Perjuangan dan Citarasa Warisan Leluhur
Dian Nur Wahid pengelola kopi secara tradisional di Dusun Banyon, Carangwulung, Wonosalam, Jombang yang masih eksis di tengah modernisasi zaman, Sabtu (17/01/2026). (Foto: Santoso/afederasi.com)

Jombang, (afederasi.com) – Di tengah gempuran teknologi pengolahan kopi modern, sebuah warung penggilingan kopi tradisional di lereng Gunung Anjasmoro, Dusun Banyon, Desa Carangwulung, Wonosalam, Kabupaten Jombang, terus menunjukkan denyut nadinya.

Usaha yang dijalankan dengan penuh ketelatenan ini menjadi bukti nyata bahwa kearifan lokal masih mampu bersaing di era industri 4.0.

Usaha penggilingan kopi tradisional ini digerakkan oleh Muhammad Dian Nur Wahid (25). Sebagai generasi kedua, ia dengan penuh kebanggaan meneruskan legacy keluarganya yang telah dirintis sejak awal tahun 2000-an.

Berbeda dengan tren yang ada, Dian memilih berpegang teguh pada metode tradisional yang diwariskan orang tuanya.

“Ini sudah berjalan sejak tahun 2000-an. Saya meneruskan usaha orang tua,”* tutur Dian kepada afederasi.com, Sabtu (17/1/2026).

Kunci keunikan kopi produksinya terletak pada proses pengolahan yang sangat detail dan manual. Dimulai dari seleksi biji kopi green bean berkualitas, pengeringan manual, hingga penyangraian selama kurang lebih satu jam.

“Setelah disangrai, kopi didinginkan dulu, lalu disortir kembali sebelum masuk proses penggilingan hingga menjadi bubuk,” jelas Dian.

Menurutnya, proses tradisional ini menghasilkan keunggulan yang tak tergantikan oleh mesin.

“Biaya produksi lebih irit, dan aroma kopi dari proses tradisional itu berbeda, lebih autentik,” ungkap pria yang merakit sendiri seluruh peralatan penggilingannya itu.

Produksi, Omzet, dan Ragam Varian Kopi

Meski secara kapasitas bisa memproduksi hingga 20 kilogram per hari, rata-rata penjualan kopi merek "Nyoto Roso" milik Dian berada di kisaran 2 kg/hari. Dengan harga jual antara Rp130.000 – Rp140.000 per kilogram, omzet bulanannya bisa mencapai sekitar Rp6 juta.

Varian kopi andalan yang dipasarkan adalah:

Kopi Ekselsa Wonosalam: Rp35.000/250gr (Rp140.000/kg)

Kopi Robusta Campuran: Rp25.000/250gr atau Rp15.000/100gr

Untuk harga, kopi ekselsa dijual Rp35 ribu per kemasan 250 gram atau Rp140 ribu per kilogram. Sementara kopi robusta campuran dibanderol Rp25 ribu untuk 250 gram dan Rp15 ribu untuk kemasan 100 gram.

Pemasaran "Nyoto Roso" telah menjangkau berbagai kota di Jawa Timur seperti Blitar, Tulungagung, dan Kediri, menunjukkan daya tarik yang kuat.

Testimoni Pelanggan dan Harapan ke Depan

Rendar Putra (26), salah satu pelanggan setia, mengaku rutin mengonsumsi kopi ekselsa produksi Dian.

“Saya pakai setiap hari. Selain karena rasanya unik, ini juga bentuk kecintaan saya pada produk asli Jombang,” ujar Rendar. “Harganya masih ramah di kantong, apalagi dengan rasa yang berbeda.”

Meski menghadapi tantangan berupa proses manual yang memerlukan tenaga ekstra, semangat Dian tak surut. Harapannya sederhana namun penuh makna.

“Semoga ke depannya bisa lebih maju,” pungkasnya.

Keberadaan usaha ini bukan sekadar bisnis, melainkan penjaga identitas dan napas panjang budaya pengolahan kopi Jawa Timur.

Di setiap butir kopi yang digiling, tersimpan cerita, warisan, dan komitmen untuk melestarikan rasa yang hampir tergerus zaman.(san)

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow