Kondisi Banjir Luapan Bengawan Jero di Lamongan Semakin Memprihatinkan

11 Jan 2026 - 14:18
Kondisi Banjir Luapan Bengawan Jero di Lamongan Semakin Memprihatinkan
Kondisi Akses Jalan di Bojoasri yang Tergenang Banjir Luapan Bengawan Jero, seorang siswa nekad melintasi banjir sedada saat pulang, dan sejumlah motor mogok akibat nekad melintasi jalan yang terendam banjir. (Iyan Farikh/afederasi.com)
Kondisi Banjir Luapan Bengawan Jero di Lamongan Semakin Memprihatinkan

Lamongan, (afederasi.com) – Kondisi banjir akibat luapan Sungai Bengawan Jero di Desa Bojoasri, Kecamatan Kalitengah, Kabupaten Lamongan, semakin memprihatinkan. Minggu, (11/1/2026). Banjir yang telah merendam wilayah tersebut selama hampir dua bulan tak kunjung surut, bahkan terpantau semakin tinggi.

Hingga saat ini, ketinggian air di akses jalan utama desa telah mencapai 60 hingga 70 sentimeter, yang melumpuhkan mobilitas warga. Tak hanya jalanan, luapan air juga mulai merangsek ke pemukiman penduduk. Tercatat puluhan rumah warga terendam dengan ketinggian air antara 30 hingga 40 sentimeter.

Dampak ekonomi dan sosial pun kian meluas. Ratusan hektar lahan tambak milik warga dipastikan gagal panen akibat terendam air. Selain itu, fasilitas umum seperti gedung lembaga pendidikan juga tidak luput dari kepungan banjir.

Kondisi ini memaksa para siswa di Desa Bojoasri untuk tetap berangkat sekolah di tengah kepungan air. Dengan seragam yang basah kuyup karena harus menerjang genangan, mereka bertaruh keselamatan setiap harinya.

Salah satu siswa, Noval, mengungkapkan bahwa kondisi seragam basah sudah menjadi makanan sehari-hari. "Iya, setiap hari basah begini bajunya karena jalannya licin. Kadang sampai terpeleset di sana. Tapi tidak ada rencana sekolah libur, tetap semangat sekolah," ujar Naufal sambil tersenyum meski kondisinya basah kuyup.

Banjir yang berkepanjangan ini membuat warga merasa terisolir. Selain sulitnya akses logistik, hingga kini warga mengaku belum tersentuh bantuan yang signifikan dari pihak terkait. Harapan untuk peninggian akses jalan menjadi aspirasi utama yang terus disuarakan.

Makin, salah seorang warga terdampak, mengeluhkan kondisi desa yang seolah terlupakan meski banjir sudah melanda hampir dua bulan.

"Sudah mau dua bulan lebih (banjirnya). Tingginya kurang lebih 30-an (sentimeter di dalam rumah). Belum pernah mendapatkan bantuan sama sekali. Harapannya ya minta bantuan dan peninggian jalan ini," ungkap Makin saat ditemui.

Warga berharap Pemerintah Kabupaten Lamongan maupun pihak terkait segera mengambil langkah konkret, baik melalui pemberian bantuan logistik maupun solusi jangka panjang seperti normalisasi sungai dan peninggian infrastruktur jalan agar aktivitas ekonomi dan pendidikan tidak terganggu. (yan)

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow