Jalan Terendam Banjir, Ratusan Siswa di Lamongan Bersihkan Enceng Gondok

07 Jan 2026 - 18:19
Jalan Terendam Banjir, Ratusan Siswa di Lamongan Bersihkan Enceng Gondok
Ratusan Siswa dan Guru di Desa Bojoasri Lamongan Bersihkan Eceng Gondok yang Menumpuk. (Iyan Farikh/afederasi.com)

Lamongan, (afederasi.com) – Ratusan siswa dan guru di Desa Bojoasri, Kecamatan Kalitengah, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, terpaksa turun ke sungai untuk membersihkan hamparan enceng gondok, Rabu (7/1/2026). Aksi ini dilakukan karena sungai menjadi satu-satunya jalur transportasi yang tersisa setelah jalan poros desa lumpuh total akibat banjir luapan Sungai Bengawan Jero.

Para siswa dan guru dari Lembaga Pendidikan (LP) Ma'arif NU Khozainul Ulum tersebut bahu-membahu menyingkirkan gulma yang menutup rapat permukaan air. Dengan alat seadanya, mereka berusaha menormalisasi aliran sungai agar bisa kembali dilintasi perahu, baik untuk kebutuhan warga maupun akses siswa menuju sekolah.

Kondisi banjir yang merendam jalan desa membuat aktivitas masyarakat terhenti. Ketinggian air yang tak kunjung surut memaksa warga beralih menggunakan perahu. Namun, pertumbuhan enceng gondok yang tidak terkendali membuat jalur air tersebut juga tidak bisa dilewati.

Ketua LP Ma'arif NU Khozainul Ulum, Ahmad Daman Huri, menjelaskan bahwa aksi bersih-bersih ini merupakan bentuk kepedulian lingkungan sekaligus upaya darurat agar akses pendidikan tidak terputus.

"Kegiatan ini merupakan bukti kepedulian kami terhadap lingkungan. Mengingat sungai yang menjadi jalur transportasi utama masyarakat saat ini lumpuh akibat tertutup enceng gondok," ujar Ahmad Daman Huri di sela-sela kegiatan.

Ia menambahkan, meski kegiatan ini cukup menguras tenaga, hal ini penting untuk mengedukasi siswa mengenai pentingnya menjaga ekosistem air.

Pantauan di lokasi menunjukkan antusiasme para siswa yang luar biasa. Meski harus menceburkan diri ke dalam air sungai yang keruh, mereka tetap bersemangat menarik hamparan tanaman gulma yang berat dan sulit diangkat.

Atifah, salah satu siswa yang ikut dalam aksi tersebut, mengaku tidak keberatan meski harus berbasah-basahan. Menurutnya, akses sungai sangat vital bagi dirinya dan teman-temannya untuk bisa sampai ke sekolah.

"Sulit memang mengangkat enceng gondoknya, tapi kami tetap semangat. Karena jalan poros desa sudah tidak bisa dilewati, sungai ini jadi satu-satunya jalur kami menuju sekolah," kata Atifah.

Senada dengan Atifah, dua siswa lainnya, Zahiro dan Elsa, mengungkapkan bahwa aksi ini merupakan pengalaman pertama bagi mereka. Walaupun melelahkan, mereka merasa senang bisa membantu membuka akses jalan air yang tersumbat.

Selain sebagai upaya normalisasi jalur transportasi, pihak sekolah berharap aksi nyata ini dapat membentuk karakter siswa agar lebih peka terhadap kondisi sosial dan kelestarian lingkungan di tengah bencana banjir yang kerap melanda wilayah Lamongan. (yan)

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow