Debit Air Bengawan Jero Lamongan Mulai Surut di Penghujung Januari 2026
Lamongan, (afederasi.com) – Kabar melegakan datang dari pemantauan debit air di kawasan Bengawan Jero (Kali Blawi), Kabupaten Lamongan. Setelah sempat mengalami kenaikan signifikan pada pertengahan bulan, kini tren air dilaporkan terus menurun dalam sepekan terakhir.
Berdasarkan data teknis per Kamis (29/01/2026), level air berada di posisi +0.61. Angka ini menunjukkan penurunan jika dibandingkan hari sebelumnya, Rabu (28/01), yang berada di posisi +0.64.
Kepala Dinas Sumber Daya Air dan Bina Konstruksi (SDABK) Lamongan, Erwin Sulistya Pambudi, mengungkapkan bahwa penurunan ini dipicu oleh optimalisasi pembuangan air di pintu-pintu air strategis.
"Kondisinya saat ini trennya menurun. Sejak tanggal 23 Januari kemarin air terus menunjukkan grafik turun. Untuk pagi ini, Pintu Sluice Kuro dalam posisi Buka Buang (BB) sejak jam 06.00 WIB," ujar Erwin saat dikonfirmasi afederasi.com, Kamis (29/1/2026) pagi.
Tidak hanya mengandalkan Pintu Kuro, pihak SDABK juga menyiagakan mesin pompa untuk mempercepat aliran air menuju hilir.
"Kami juga operasikan dua unit Pompa Melik secara aktif dengan kapasitas buang masing-masing 500 liter per detik. Ini langkah kita untuk meminimalisir genangan di wilayah permukiman dan tambak," tambahnya.
Meski tren air mulai surut, dampak banjir luapan sungai Bengawan Jero yang terjadi sejak akhir tahun 2025 masih menyisakan catatan.
Berdasarkan data rekapitulasi BPBD Lamongan per 28 Januari 2026, tercatat sebanyak 4.695 rumah di lima kecamatan masih tergenang air. Lima kecamatan tersebut meliputi Kalitengah, Turi, Deket, Glagah, dan Karangbinangun.
Selain permukiman, sektor pertanian dan infrastruktur juga terdampak cukup parah. Total 7.227 hektar lahan sawah dan tambak masih terendam luapan banjir Bengawan Jero. Kemudian infrastruktur jalan sepanjang 52,6 kilometer jalan (desa dan dusun) juga masih terendam. Dan sebanyak 94 lembaga pendidikan ikut terdampak banjir tahunan ini.
Data BPBD Lamongan menunjukkan bahwa Kecamatan Glagah menjadi wilayah dengan jumlah jiwa terdampak paling banyak, yakni mencapai 5.789 jiwa, disusul Kecamatan Turi dengan 3.963 jiwa. (yan)
What's Your Reaction?



