Perjuangan Tim PSC 119 Dinkes Lamongan Terjang Hujan Angin dan Eceng Gondok

28 Jan 2026 - 00:09
Perjuangan Tim PSC 119 Dinkes Lamongan Terjang Hujan Angin dan Eceng Gondok
Perjuangan Sejumlah Tim PSC dan Bidan Puskesmas Turi Melawan Eceng Gondok dan Hujan Angin saat Hendak Melakukan Pengobatan Kepada Warga Terdampak Banjir di Desa Kepudibener (Iyan Farikh/afederasi.com)

Lamongan, (afederasi.com) – Dedikasi tinggi ditunjukkan oleh tim medis di Kabupaten Lamongan. Demi memberikan layanan kesehatan bagi warga terdampak banjir Bengawan Jero, tim PSC 119 Dinas Kesehatan (Dinkes) Lamongan harus bertaruh tenaga menerjang arus sungai dan hambatan tanaman eceng gondok untuk mencapai Desa Kepudibener, Kecamatan Turi. Selasa (27/1/2026).

Perjalanan menuju Kepudibener memang bukan perkara mudah. Akses darat yang memakan waktu lama membuat tim memilih jalur sungai menggunakan perahu sebagai rute tercepat. Namun, jalur air pun menyuguhkan tantangan yang tak kalah berat.

Petugas PSC 119 Dinkes Lamongan, Bhakti Pratiwi, menceritakan bagaimana tim harus merunduk saat melewati jembatan rendah dan berjibaku dengan tanaman air yang menutupi jalur perahu.

"Perjalanan paling cepat memang lewat sungai naik perahu dari Pomahan Janggan. Pas lewat jembatan itu kita harus benar-benar merunduk banget supaya tidak terbentur bangunan jembatan," ujar Bhakti Pratiwi saat dikonfirmasi afederasi.com, Selasa (27/1/2026) sore.

Sesampainya di lokasi, tim mendampingi petugas keseharan dari Puskesmas Turi untuk menyalurkan bantuan dan layanan kesehatan dalam kegiatan Bakti Sosial (Baksos) kepada sekitar 100 warga yang rumahnya masih terendam air.

Tantangan sesungguhnya justru muncul saat perjalanan pulang. Tim harus melawan arus sungai di bawah guyuran hujan lebat dan angin kencang. Tak hanya itu, baling-baling perahu sempat tersangkut jaring ikan milik warga hingga tiga kali.

Kondisi jalur yang tertutup rapat oleh eceng gondok memaksa tim menggunakan alat seadanya untuk membuka jalan agar perahu tetap bisa melaju.

"Payung yang harusnya membuat kita tidak kehujanan, terpaksa dijadikan alat untuk menyingkirkan eceng gondok ke kanan dan kiri biar perahu bisa lewat. Kita benar-benar 'ngapung' di sungai hampir satu jam pas jalan pulang karena hambatan itu," tambahnya.

Meski harus menempuh perjalanan yang melelahkan, Bhakti Pratiwi mengaku kagum dengan kegigihan rekan-rekan medis di lapangan, terutama bidan desa dari Puskesmas Turi.

"Luar biasa perjuangan hari ini. Saya salut sekali untuk Puskesmas Turi, terutama Bu Bidan Desa yang ternyata setiap hari harus naik perahu seperti itu menuju Kepudibener untuk melayani warga," pungkasnya. (yan)

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow