Banjir Rendam 307 Hektare Sawah, 65 Hektare Dipastikan Puso
Jombang, (afederasi.com) - Genangan banjir masih membekap lahan pertanian di sejumlah wilayah Kabupaten Jombang hingga Jumat (16/1/2026).
Data terbaru Dinas Pertanian setempat mencatat luas sawah yang tergenang mencapai 307,11 hektare, tersebar di delapan desa pada tiga kecamatan.
Kecamatan Ngusikan menjadi wilayah terdampak paling luas, disusul oleh Kecamatan Ploso dan Kesamben. Dari total area yang terendam, 65 hektare sawah di Ngusikan dipastikan mengalami puso atau gagal panen total.
Kepala Desa Carangrejo, Kecamatan Kesamben, Supriaji, menyatakan kondisi di lapangan masih memprihatinkan. Ia rutin memantau langsung ke lokasi, termasuk di Dusun Kandangan yang menjadi salah satu titik terdampak paling parah.
“Di Dusun Kandangan masih tergenang. Hari ini saya pantau, air belum sepenuhnya surut,” kata Supriaji, Jumat (16/1/2026).
Ia mengungkapkan, sejumlah petani mulai pasrah melihat tanaman padi mereka terendam cukup lama. Sebagian batang padi telah menguning dan roboh.
“Harapan kami ada perhatian dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jombang, khususnya untuk petani yang padinya mati akibat banjir,” ujarnya.
Berdasarkan data Dinas Pertanian Jombang, sebaran sawah yang terendam banjir adalah sebagai berikut:
Kecamatan Ngusikan (Terdampak Terluas): Meliputi Desa Kedungbogo, Ketapangkuning, Keboan, dan Sumbernongko. Total luas terdampak 151,11 hektare, dengan 65 hektare di antaranya dinyatakan puso.
Kecamatan Ploso: Meliputi Desa Jatigedong dan Gedongombo dengan total luas sekitar 131 hektare. Beberapa titik dilaporkan mulai surut.
Kecamatan Kesamben: Meliputi Desa Carangrejo dan Watudakon seluas sekitar 25 hektare.
Kepala Dinas Pertanian Jombang, M Rony, menjelaskan bahwa pendataan kerusakan terus dilakukan sejak awal hingga 15 Januari 2026. Proses asesmen lapangan masih berlangsung untuk memastikan tingkat kerusakan yang terjadi.
“Total sawah tergenang 307,11 hektare. Dari seluruh lokasi, padi yang mengalami puso ada di Kecamatan Ngusikan seluas 65 hektare,” jelas Rony.
Ia menambahkan bahwa hasil pendataan akhir akan menjadi dasar penyaluran bantuan benih untuk petani yang terdampak. Bantuan tersebut diharapkan dapat membantu petani melakukan penanaman kembali (tanam ulang) setelah air benar-benar surut.
“Tim masih bergerak di lapangan. Laporan hari ini air mulai surut di beberapa titik,” pungkas Rony.
Pihaknya berharap proses pemulihan dapat segera dilakukan untuk meminimalisir kerugian ekonomi yang diderita oleh ratusan petani di tiga kecamatan tersebut.(san)
What's Your Reaction?



