Australia Bersiap Peringati 20 Tahun Bom Bali

Australia Bersiap Peringati 20 Tahun Bom Bali
Dua turis Australia Gerry dan Selina Dunstan mengunjungi Monumen Peringatan Bom Bali di Kuta, Pulau Bali. (ist)

Sydney, (afederasi.com) - Kekejaman pemboman di Bali 20 tahun lalu, masih menyisakan derita bagi warga Australia dalam sebuah serangan teroris.

Sekitar pukul 11 malam waktu Bali pada 12 Oktober 2002 lalu, tiga bom diledakkan di Bali. Dua bom meledak di tujuan wisata populer, Sari Club dan Paddy's Bar. Bom ketiga meledak di depan konsulat Amerika di Bali.

Para korban berasal dari lebih 20 negara, termasuk Indonesia, Inggris, Amerika, Brasil, Jerman, dan Selandia Baru. Australia yang menderita korban terbanyak dengan 88 warganegaranya tewas.

Serangan itu dilakukan oleh organisasi militan Jemaah Islamiyah yang terkait dengan al Qaeda. Lebih dari 30 orang akhirnya ditangkap karena keterlibatan mereka.

Hambali yang juga dikenal sebagai Encep Nurjaman diduga mendalangi serangan itu. Ia ditahan di penjara Amerika di Teluk Guantanamo, Kuba sejak tahun 2006. Tiga sekongkol penting lainnya dieksekusi di Indonesia pada November 2008.

Hampir 200 warga Australia kemudian mendapat pengakuan resmi atas keberanian dan bantuan yang mereka berikan setelah pengeboman.

Duta Besar Australia untuk Indonesia pada tahun 2002, Ric Smith mengatakan tanggapan terhadap ledakan bom itu heroik.

“Orang-orang masuk ke lokasi bom dan mencari para korban, membantu teman-teman dan orang yang tidak mereka kenal keluar ke tempat yang aman, membawa mereka ke rumah sakit, ke klinik, ke lobi hotel di mana mereka bisa dirawat. Mereka adalah pahlawan di tempat, pada hari itu,” ujarnya.

Menteri Luar Negeri Australia Penny Wong mengatakan, peringatan pengeboman akan menjadi hari yang sulit bagi banyak orang di Australia, Indonesia dan di seluruh dunia. Ia menambahkan, kami ikut berduka bersama para penyintas, keluarga, dan orang-orang terkasih dari mereka yang selamat dan yang tewas.

Senator Wong juga memuji upaya Indonesia dan Australia untuk memerangi momok ekstremisme kekerasan.

Pemerintah Australia mengadakan upacara peringatan di Gedung Parlemen di Canberra untuk memperingati peristiwa itu pada 12 Oktober. Upacara peringatan juga akan diadakan pada hari yang sama di Konsulat Jenderal Australia di Bali. (ans)