Ribuan Hektar Tanaman Tembakau Terancam Puso

Ribuan Hektar Tanaman Tembakau Terancam Puso
nampak para petani tembakau di Desa Ngranti sedang memanen dini tanaman tembakaunya (erin/afederasi.com)

Tulungagung, (afederasi.com) - Dinas Pertanian (Dispertan) Kabupaten Tulungagung telah mencatat seluas 1.226 hektare (HA) lahan tanaman tembakau di daerah setempat terancam puso atau gagal panen.

Kepala Dispertan Kabupaten Tulungagung, Usmalik melalui Koordinator Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (POPT), Gatot Rahayu mengatakan penyebab tanaman tembakau terancam puso tersebut karena tingginya intensitas curah hujan yang terjadi mulai Minggu, (2/10/2022) pukul 22.30 WIB hingga dini hari (3/10/2022).

"Hujan lebat mengakibatkan tanaman tembakau tergenang banjir," jelasnya.

Menurut Gatot tanaman tembakau merupakan tanaman yang sensitif sehingga rawan mengalami kerusakan, terlebih akibat banjir.

Antisipasi yang bisa dilakukan yakni para petani harus memanen dini tembakaunya agar tidak mengalami banyak kerugian.

"Lebih baik dilakukan panen dini, kalau ada hujan deras kembali tembakau malah mengalami gagal panen," ujarnya.

Berdasarkan data, Gatot melanjutkan 1.226 HA lahan tanaman tembakau yang terdampak tersebut tersebar di 20 desa yang masuk 4 wilayah kecamatan. Yakni Kecamatan Pakel, Campurdarat, Boyolangu, dan Gondang.

"Paling luas di Kecamatan Campurdarat dengan luas 500 HA lahan tembakau," terangnya.

Sementara itu dikonfirmasi di tempat berbeda salah satu petani tembakau asal Desa Ngranti Kecamatan Boyolangu, Saniran (53) mengatakan pihaknya sudah melakukan panen dini sejak Senin, (3/10/2022) kemarin, seusai hujan mulai reda. Seharusnya tembakaunya mulai bisa dipanen 2 hingga 3 minggu lagi.

"Tapi daripada saya rugi semakin banyak, maka saya lakukan panen dini," katanya.

Menurutnya, tanaman tembakau merupakan tanaman yang tidak tahan air. Apabila tergenang banjir lebih dari 3 hari maka sudah mengurangi kualitas dari tembakau tersebut.

"Rasa dan kualitas bisa menurun, dan itu nantinya malah membuat kami semakin rugi banyak," terangnya.

Pihaknya mengaku melakukan panen keseluruhan tembakau miliknya. Sebab, saat ini pihaknya sudah mengalami kerugian Rp50 hingga Rp100 ribu per kwintal (kw) nya.

"Kalau harga normal per kw biasanya saya mendapat Rp700 ribuan. Ini hanya mendapat Rp500 hingga Rp650 ribu saja," tandasnya.

Sementara itu berdasarkan data yang dihimpun afederasi.com, selain tembakau ada beberapa tanaman yang juga terdampak banjir. Seperti tanaman jagung seluas 4.053 HA, padi seluas 467 HA, Melon seluas 12 HA, Cabai seluas 116 HA, ubi jalar seluas 2 HA, tomat 1 HA, kacang tanah 14 HA, dan kacang hijau seluas 12 HA. (er/dn)